Sisa Kejayaan Indonesia di Masa Soekarno

Posted on


mig-21

  Apakah anda pernah mendengar bahwa pada tahun 1960an indonesia pernah menjadi negara yang terkuat di belahan bumi selatan ? Kabarnya saat itu Indonesia memiliki persenjataan dalam jumlah yang cukup banyak dan canggih, tapi dimanakah sisa sisa kejayaan Indonesia itu. Jika anda mencari jawaban ini di internet pasti jawabannya akan standar, yaitu alutsista Indonesia kekurangan suku cadang dan terpaksa harus digrounded.

  Saya sempat browsing dan mendapatkan kutipan ini di salah satu artikel.

“Keberadaan burung besi ini masuk dalam daftar peralatan perang yang disiapkan dalam rangka kampanye Trikora. Pasalnya Belanda yang masih ngotot bercokol di Papua Barat merasa diatas angin dalam hal persiapan perang terbuka. Hawker Hunter F-6, jet tempur buatan Inggris tahun 1954 yang dimilikinya belum mampu ditandingi oleh AURI kala itu. Walaupun AURI kebanjiran peralatan perang yang tergolong canggih, tapi untuk masalah jet pencegat pesawat lawan masih belum ada. Mig-17 Fresco belum menjadi tandingan Hawker Hunternya Military Luvchvaat yang mampu melesat 1.117 km/jam, daya capai ketinggian 14.325 meter dengan jangkauan 690 kilometer”.

  Sebagai presiden pertama Indonesia, Soekarno tidak mau main main membiarkan sistem pertahanan indonesia berlubang, untuk itu ia terus membangun kekuatan militer baik yang bersifat offensive dan defensive. Untuk dapat memperkuat pertahanan, Indonesia memutuskan untuk membeli 20 pesawat MIG 21 dan 10 MIG 19. Selain kedua pesawat tersebut, Indonesia juga memiliki pesawat DH 115 Vampire, Mig 15, Mig 17 serta beberapa hasil rampasan dari Jepang dan Belanda. Walaupun Indonesia memiliki banyak varian pesawat, tapi menurut para penerbang Indonesia, MIG 21 dan MIG 19 lah yang performanya paling bagus. Pesawat buatan Biro Desain Mikoyan Gurevich ini juga yang membuat pasukan sekutu menjadi ragu untuk menginvasi Indonesia kembali. Pesawat MIG 21 ini diyakini dapat mengejar dan menghancurkan pesawat B 52 Stratofortress milik Amerika dengan mudah. Pesawat dari Skuadron 14 ini memiliki daya dorong sekitar 5.950 kg dari mesin turbojet Tumansky R-11-F 2-300 yang mampu terbang hingga ketinggian 20.000 m dan daya jelajah 1800 km. Pesawat ini dipersenjatan dengan 30 mm canon dan rudal K-13 A ( kode NATO AA2 Atol.

mig 21

  Walaupun akhirnya tidak turun langsung saat Trikora, tetapi keberadaannya membuat perang berakhir dimeja perundingan. Hal itu disebabkan, sebuah pesawat intai AU AS Lockheed U-2 Dragon Lady terbang di atas Madiun. Selama konfrontasi, sering pesawat ini sengaja diterbangkan dari Darwin ke Filipina untuk misi-misi intelijen. Dari ketinggian 70.000 kaki, teridentifikasi oleh pilot beserta kru deretan jet tempur dan pembom. Ditiliknya dengan cermat. Tak salah lagi, sang pilot yakin bahwa pesawat yang dilihatnya adalah pembom Tu-16 Badger dan MiG-21F Fishbed C (sebutan yang diberikan NATO), jet tempur penghadang (intercept) paling ditakuti barat kala itu. Sebelumnya, intelijen AS sudah mengendus kedatangan MiG-21 di Indonesia.
Hasil pengintaian ini bergegas disampaikan Amerika kepada Belanda. “Percuma melawan Indonesia, mereka punya ini.” Begitu kira-kira laporan intel AS kepada pihak Belanda sambil menyodorkan foto hasil jepretan pesawat U-2. Amerika pun sebenarnya masih gamang, mengingat F-4E Phantom yang baru dimodifikasi, masih meragukan untuk diadu berlaga melawan MiG-21.
Selain digunakan dalam kancah Trikora, tercatat pernah berpartisipasi dalam perang Dwikora, dimana Mig-21 melaksanakan tugas pengawalan terhadap pembom raksasa TU-16 Badger yang terbang melintas di perbatasan Serawak. Pernah berpapasan dengan Hawker Hunter dan HS Buccaneer-nya Inggris tapi kedua belah pihak tidak pernah mendahului melakukan tindakan provokasi.
Menurut cerita Marsda (Pur) Jahman dan Marsda (Pur) Rusman, penerbang MiG-21 AURI, ketika konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan kampanye Dwikora, Indonesia menyiagakan pembom Tu-16 dan MiG-21. Karena jangkauannya yang kecil, pesawat harus ditempatkan di Palembang dan Medan. Selama pengabdiannya di AURI, memang tidak ada pengalaman perang udara hebat yang ditinggalkan MiG-21 bagi generasi berikutnya. Selama Dwikorapun, hanya beberapa kali berpapasan dengan pesawat Hawker Hunter atau HS Buccaneer Inggris saat mengawal Tu-16.
Komodor Udara Leo Wattimena sendiri memang tidak menghendaki adanya duel udara di antara kedua belah pihak. “Kecuali ditembak,” perintah Leo. Namun begitu, dua rudal K-13A atau NATO menyebutnya AA-2 Atoll dan kanon 30 mm, tetap disiagakan.

mig_21
Dengan airborne dari Medan, pesawat terbang low level menyusuri selat Malaka. Begitu menjelang perbatasan, tower akan berteriak memberitahu ada pesawat naik dari Butterworth. “Kita langsung pull up, kabur,” jelas Jahman yang menjabat komandan Skadron 14 setelah Rusman. Saat pesawat Inggris tiba di perbatasan, MiG-21 AURI sudah terbang jauh. “Kita (MiG-21) memang tidak pernah perang. Sebagai pencegat, kita hanya menunggu lawan yang tidak pernah jelas. Itulah tugas kita, menunggu dan menunggu,” tutur Jahman yang menerbangkan MiG-21 nomor 2164.
Mig-21 F memperkuat AURI hanya sampai dengan tahun 1967. Selanjutnya pesawat hebat ini di-grounded setelah sebelumnya melakukan farewell flight terbang sebulan penuh di Lanud Kemayoran.”
Berikut adalah kutipan yang diambil dari
“Red Eagles, America’s Secret MiGs” karangan Steve Davies.

“Setelah pemerintahan mantan presiden Soekarno jatuh, yang diikuti hubungan Indonesia dan Uni Soviet yang memburuk dan pemerintahan mantan presiden Soeharto yang condong ke arah Amerika Serikat. Maka Uni Soviet kemudian menarik maintenance support untuk pesawat buatan Uni Soviet yang berada di Indonesia. Sehingga dengan “terpaksa” Indonesia mempensiunkan 30 Mig-17, 10 Mig-19 dan 20 Mig-21 yang dimilikinya diakibatkan kekurangan suku cadang.

maxresdefault
Kemudian Pemerintah Amerika Serikat dengan dalih untuk membantu mengembangkan kekuatan TNI AU maka memperbolehkan Indonesia untuk membeli peralatan militer buatan amerika serikat mulai dari T-33, UH-34D, hingga F5E/F dan OV-10. Tetapi perjanjian tersebut entah bagaimana membuat Amerika Serikat dapat membawa Mig kita ke ke Groom Lake, markas dari Red Eagles yaitu suatu skuadron yang ditugasi untuk mempelajari kelemahan dari pesawat-pesawat buatan uni soviet.
Adapun Mig yang dibawa ke amerika serikat tersebut dari 10 Mig-21F13 dengan tail number 2151,2152,2153,2155,2156,2157,2159,2162,2166,2170; 1 Mig-21U tail number 2172 dan 2 Mig-17F tail number 1184 dan 1187.” Sementara Mig-19 dijual ke Pakistan. “Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,” aku Rusman.
Beberapa dari pesawat Mig tersebut masih bisa dilihat di Musium Satria mandala dan ITB, beberapa kabar dari milis info militer juga menyatakan beberapa Tu-16 kita juga dibawa kesana dan sisanya discrap. Lebih menyedihkan lagi pesawat T-33 yang kita beli dari Amerika tidak dilengkapi oleh persenjataan, walaupun akhirnya bisa diakali oleh ground crew TNI AU sehingga T-33 tersebut bisa dipersenjatai dan dapat digunakan untuk operasi militer.

Iklan

Silahkan yang mau komentar... tapi ingat ! yang sopan ya :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s