Konflik

Analisis Serangan Amerika di Suriah

Posted on

  Semenjak beberapa tahun terakhir Suriah beserta beberapa negara di kawasan seakan menjadi neraka yang disebabkan oleh keganasan dan ketamakan nafsu. semenjak Arab spring bergulir tahun 2011 silam seakan negara di kawasan menjadi rawan akan gesekan dan geopolitik menjadi sangat labil. banyak pihak yang terlibat dalam perang yang melelahkan ini. Berbagai faksi proxy dukungan NATO dan pihak lain, ekstrimis hingga pasukan pemerintah saling hajar dan bunuh untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Perang Suriah yang begitu rumit ini seakan enggan untuk disudahi dan menjadi makin larut dalam kerumitan.

 Kita dapat melihat baru baru ini Pasukan Amerika melakukan taktik klasiknya, menghujani tomahawk ke basis pemerintah Suriah. Strategi yang terbukti sukses ketika penggulingan Sadam Hussein dan Penghancuran Khadafi ini mereka coba terapkan lagi kepada pasukan Suriah di Al Syairat. Pasukan Suriah yang tengah diatas angin setelah kemenangan yang mereka dapatkan dari Menggempur ISIS, FSA dan beberapa faksi ekstrimis terpaksa harus menelan pil pahit usai serangan Amerika terhadap mereka.

  Serangan Amerika ke Suriah ini diklaim oleh Amerika sebagai balasan atas serangan gas kimia ke oposisi. Sangat ironi keputusan Amerika ini sangat tergesa gesa mengingat serangan gas itu belum mereka selidiki dengan benar dan belum ada bukti yang kuat mengenai hal itu. Bahkan pemerintah Russia, Suriah dan Iran mengatakan serangan gas kimia itu adalah bohong. Hal senada diungkapkan oleh ikatan dokter Swedia yang mengatakan bahwa serangan gas itu adalah palsu dan sengaja dibuat buat oleh pihak tertentu. Tentu jika hal ini benar maka akan menjadi pisau bagi Amerika dan pihak pihak yang mendukung serangan Amerika.

  Serangan ini juga membuktikan bahwa Amerika terbukti bermata dua dalam konflik di Suriah. Mereka mengatakan melawan teroris namun di lain sisi tindakan mereka ini justru dapat menyuburkan teroris di kawasan. Beberapa saat setelah serangan Amerika ke Suriah ini menjadikan teroris ISIS memiliki nyali untuk menggempur pasukan Suriah dan merebut wilayah dari pasukan resmi pemerintah. Kejadian ini sangat mirip dengan kejadian di Deir ez-Zor yang mana saat itu ISIS tengah dalam kondisi terpojok kembali meraih kemenangan karena Amerika.

  Tindakan tergesa gesa Amerika ini mungkin juga sebagai langkah melindungi sekutu mereka Saudi dan Israel. Telah lama Israel adalah musuh abadi bagi Suriah dan tentu akan menjadi masalah bagi Israel bila Suriah dapat memenangkan pertempuran dengan para teroris dan menjadi ancaman bagi sekutunya. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu adanya penggantian terhadap pemerintah Assad terhadap pemerintahan yang pro terhadap mereka. Serangan ini secara tidak langsung juga melemahkan lawan mereka, Rusia mengingat di Negara ini berdiri pangkalan militer Rusia dan menjadi tangan bagi Rusia terhadap segala kepentingan di kawasan.

  Sumber daya alam juga menjadi alasan terselubung, Minyak dan gas yang tersimpan di Suriah menjadikan siapa saja bernafsu untuk dapat menguasainya. Terlepas dari tangan tangan kotor penuh darah tentu minyak merupakan komoditas yang sangat penting dan berharga. Jumlah minyak dunia yang terus menipis tentu membuat barang ini semakin mahal.

Akhirnya Serangan Amerika di Suriah ini menjadi sesuatu yang sangat sarat akan kepentingan politik. Amerika menginginkan Assad lengser dan sumber daya alam yang benar benar menggiurkan. Konflik berkepanjangan seperti di Suriah bukan tidak mungkin juga akan terjadi di Indonesia kedepannya jika kita masih mudah untuk dipecah seperti di Timur Tengah, untuk itu perlu bagi kita untuk belajar dari konflik di Suriah dan berusaha agar jangan sampai ini terjadi di Indonesia.

Iklan

Analisis Perang di Suriah

Posted on Updated on

serangan-Rusia-301si16klzjd5wim5j99mo

Akhir akhir ini konflik di timur tengah seakan makin melebar dan panas. Pertarungan besar baik antara milisi dengan milisi,  milisi dengan pemerintah ataupun pemerintah dengan pemerintah. Hal yang baru baru ini membuat heboh adalah tentang  bantuan sekutu sekutu Suriah untuk melawan kelompok pemberontak. Di sini yang dimaksud sekutu suriah adalah Russia, Cina, Iran, Hizbullah, Milisi Syiah Suriah, dan pasukan pasukan lain.

Pasukan pendukung suriah ini terlihat sangat berpengaruh dalam membatu suriah melawan pemberontak, terbukti dari serangan udara russia yang sangat tepat mengenai basis pemberontak baik itu FSA, ISIS, JAN dan lain lain. Namun kegiatan russia dalam mengatasi pasukan pemberontak itu sepertinya tidak berjalan mulus. Terbukti dari banyaknya kecaman dari berbagai pihak     seperti beberapa negara NATO, Arab, Amerika, Irak, dan Israel. Tak hanya berupa ancaman saya bahkan sempat terjadi saling kunci di udara. Sebenarnya hal itu cukup wajar mengingat Arab, Amerika dan Israel memiliki kepentingan di Suriah dan mereka juga memiliki teroris didikan seperti FSA, JAN dan mungkin ISIS. Mengapa saya bisa berkata demikian ? Hal ini terbukti saat Russia mengebom basis teroris tersebut mereka seakan kebakaran jenggot dan mengancam Russia dan mengatakan bahwa merekalah yang mendanai teroris itu

Konflik di Suriah sepertinya makin lama akan makin rumit dan lebar mengingat seakan akan di Suriah menjadi medan tempur antara pasukan barat yang dipimpin Amerika dan blok timur yang dipimpin Russia. Lalu bagaimana prediksi jalannya pertempuran tersebut ? Berikut analisa saya :

Pertempuran Udara

Dassault_Rafale

 Di militer abad 21 ini tak bisa lepas dari yang namanya kemampuan perang di udara, siapa yang unggul di udara dialah yang  akan memimpin jalannya perang. Untuk kemungkinan perang di udara, sepertinya akan menjadi ajang uji coba senjata dari  berbagai negara.

Disini kemungkinan negara blok barat akan mengeluarkan sebagian besar armada udara mereka. Negara pemilik pesawat  dalam jumlah besar seperti Arab, Israel, Turki, dan Amerika dan negara NATO akan memainkan peran kunci di sini. Sementara dari pihak timur yang akan memegang peran kunci adalah Russia, Cina, Korut dan Iran.

Mari kita analisa satu persatu. Untuk pihak barat, negara seperti Amerika, Israel, Inggris dan negara Nato lain tentu memiliki jumlah armada yang kuat, modern, dan terlatih sehingga mereka adalah pemimpin blok barat di udara. Sementara untuk Arab dan Turki memang memiliki armada yang cukup besar namun kualitas penerbang mereka masih dipertanyakan.

Untuk pihak timur Russia dan Cina tentu akan menjadi tulang punggung, mereka memiliki pesawat yang modern, banyak ,skill penerbang yang sejajar dengn pihat barat. Sementara Korea Utara juga memiliki pesawat yang sangat banyak namun sebagian besar adalah pesawat tua sepert MIG 21, pesawat seperti ini tentu tidak berpengaruh kuat di pertempuran kecuali mereka mau mengupgrade menjadi sekelas MIG 21 Byson. Namun walaupun tua pesawatnya, pasukan Korea Utara terkadang nekat , bukan tidak mungkin mereka akan memakai pesawat tuanya ini untuk melakukan serangan bunuh diri yang dulu terkenal sangat akurat saat Jepang menyerang Amerika.

Di sini akan terjadi pertempuran antara pesawat F 4, F 5, F 15, F 16, F 18, F 22, F 35, Rafale, Mirage, Typhoon yang akan menghadapi pesawat seperti F 4, F 5, F 14, Mig 21, Mig 15, Mig 17, Mig 29, Mig 35, Su 27, Su 30, Su 35, T 50 ( jika sudah fix ) J 11, JF 17, J10, J 20/ J 35 ( jika cina berhasil mengembangkannya ), Hal Tejas, Saeqh dan lain lain. Dari segi teknologi mungkin barat lebih unggul tapi dari jumlah mungkin timur lebih unggul mengingat sebagian besar armada American Air Force adalah drone.

Pertempuran Laut

A still image taken from footage released by Russia's Defence Ministry on October 7, 2015, shows a Russian warship firing a rocket in the Caspian Sea. The Russian defence ministry said on Wednesday that 26 rockets fired by its warships earlier in the day had struck targets associated with Islamic State and Al-Nusra, the Interfax news agency reported. REUTERS/Ministry of Defence of the Russian Federation/Handout via Reuters TPX IMAGES OF THE DAY ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. NO SALES. NO ARCHIVES

  Untuk pertempuran di laut mungkin tidak akan begitu besar karena notabene perang di Suriah ini adalah perang saling mempertahankan kepentingan. Baru baru ini Cina dikabarkan mengirimkan kapal induknya Liaoning ke Timur Tengah untuk membantu Russia melawan pemberontak Suriah. Selain Cina kabarnya Iran juga mengirimkan Destroyer buatan dalam negeri, Jamaran dan beberapa fregate untuk mengamankan kepentingannya. Russia juga mengirimkan beberapa kapal yang mempu membawa  misil dengan tingkat akurasi tinggi, Calibr yang kabarnya Russia telah menembajan 26 misil ini ke basis pasukan pemberontak yang jaraknya 1500 km dan semuanya tepat sasaran dengan koreksi 3 meter.

  Berbanding terbalik dengan pasukan timur yang semakin menumpuk kekuatannya, blok barat justru mengurangi armada lautnya di Timur Tengah. Kabarnya kapal induk amerika yang ada di wilayah Teluk akan dipindahkan karena masalah keuangan yang tentu ini akan mengurangi kekuatan mereka di sana.

Jikalau ada pertempuran di laut kemungkinan  besar pihak Timur yang akan menang walaupun Russia sedang ada masalah dengan ekonominya. Disini mungkin juga akan menjadi ajang pembuktinan siapa diantara Calibr dan Tomahawk yang lebih hebat dan akurat.

Pertempuran Darat

Al Quds Army

  Di darat pasukan timur akan berada sedikit diatas angin. Pasalnya pasukan timur sudah terbiasa dengan perang gerilya dan mereka sudah kenyang dengan pengalaman menginvasi atau diinvasi. Sementara di pihaka barat agak sedikit bermasalah karena pasukan barat khususnya Amerika kurang tahan terhadap cuaca gurun. Hal ini terbukti saat pasukan Amerika dan beberapa negara NATO yang kewalahan di Afganistan karena tidak tahan terhadap panas.

  Pasukan timur juga memiliki beberapa kelompok yang sudah banyak pengalaman perang seperti pasukan Hizbullah, Al Quds, Milisi Milisi Syiah, dan pasukan Chechnya. Di medan ini juga mungkin akan menjadi ajang pembuktian antara tank Merkava, Abrams, Chalanger yang akan melawan Zulfiqar, T 72, T 90, T 99 dan mungkin jika sudah mampu beroperasi T 14 Armata ( tank ini belum benar benar final ).

Di sini intelijen juga akan sangat berperan, diblok timur ada 3 negara yang memiliki intelijen kuat yaitu Amerika dengan CIA, Israel dengan Mossad, atau Inggris dengan M16 nya. Sementara di Pihak Timur ada Russia dengan FSB, Iran dengan pasukan Al Quds, atau Cina dengan kelompok peretas peretas hebat mereka.

Jika perang terbuka benar benar terjadi di Suriah kemungkinan tidak akan sampai ke perang nuklir namun perang media akan sangat dominan dimana tiap negara akan mengerahkan media masa yang dimilikinya untuk mengubah opini global. Jika dari segi militer mungkin pasukan barat akan lebih unggul tapi dari segi politik pasukan Timur yang menang karena mendukung pemerintah yang sah dan barat mendukung oposisi. Alasan ini bisa dijadikan pihak timur untuk membuat bumerang dan menjatuhkan pihak barat.

Iran Sebar Radar Tercangihnya Untuk Hadapi Amerika

Posted on

Radar Ghadir

Pemerintah Iran baru baru ini dikabarkan telah menyebarkan radar anti-rudal jarak jauh di berbagai wilayahnya. Tindakan Iran ini sebagai langkah untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika hasil akhir kesepakatan nuklir Iran dengan enam kekuatan dunia berkahir dengan perang antara Amerika dan Iran. Menurut Reuters, Amerika sudah mendesak Iran untuk mengambil keputusan yang sangat sulit mengenai nuklirnya.
Brigadie Jendaral Farzad Esmaili selaku Komandan Korps Revolusi Islam Iran atau yang didingkat IRGC mengatakan bahwa Iran telah menenebar salah satu radar tercanggih di dunia buatannya, yaitu radar Ghadir untuk mendeteksi kemungkinan serangan udara. Jenderal Farzad Esmaili juga mengatakan bahwa Iran juga baru saja menempatkan Radar canggih itu di Kota Ahwaz, Provinsi Khuzestan barat daya tak jauh dari perbatasan dengan Irak.
Pemerintah Iran mengatakan bahwa Radar Ghadir dapat mendeteksi berbagai pesawat dalam jarak 600 km (373 mil) dan rudal balistik dalam jarak 1.100 km. Beberapa waktu lalu Iran juga mengatakan bahwa radar ini dapat mendeteksi semua pesawat siluman amerika termasuk B2, F 117, F 35 bahkan pesawat siluman tercanggih Amerika, F 22. Radar ini juga sempat diberitakan akan mengakhiri era pesawat siluman Amerika. Baca juga Era Pesawat Siluman Amerika Akan Berakhir Ditangan Iran.

F-35

Menurut kantor berita Fars, Komandan Korps Revolusi Islam Iran  mengatakan bahwa radar Ghadir juga mampu mengidentifikasi pesawat tak berawak berukuran mini. ” ” menemukan dan melacak kendaraan udara mikro (MAV) adalah salah satu kelebihan khusus dari sistem radar Ghadir,” katanya. Berikut adalah video dari radar Tercanggih milik Iran itu


Untuk mengamankan wilayah udaranya Iran juga memutuskan untuk membeli sistem pertahanan udara S 300 dari Rusia setelah pejabat Amerika dan Israel mengatakan akan mengunakan aksi militer untuk menumpas Iran. Selain membeli S 300 dari Rusia iran juga mengembangkan sistem pertahanan S 200, Patsir, dan Iran juga dikabarkan berhasil membuat tiruan S 300. Selain itu Iran juga sanggup mengembangkan Patriot milik Amerika pada masa Syah Reza Pahlevi dan Rudal Scud yang banyak di Timur Tengah. Selain sistem pertahanan udara Iran juga terus mengembangkan misil balistik jarak jauhnya. Hal yang paling mengejutkan adalah dalam waktu yang cukup singkat Iran mampu membuat roket dengan jarak jangkan 4000 km. Untuk pertahanan darat Iran mempercayakan pada tank Zulfiqar buatannya dan dilaut Iran mengandalkan Destroyer tercanggih buatannya, Jamaran. Seolah tak mau kalah dari Amerika Iran juga mengembangkan pesawat Saeqh, Azarakh, Borhan dan lain lain untuk melindungi wilayah udaranya.

Analisis Perang Rusia VS Amerika

Posted on Updated on

bom nuklir

Rusia dan Amerika, dua negara adidaya yang yang menjadi rival sejak dulu. Rusia sebagai anak terbesar dari Uni Soviet tentulah mewarisi sebagian besar kekuatan Uni Soviet di masa lalu. jika antara Rusia dan Amerika terjadi perang mungkin inilah saat yang ditunggu Amerika untuk mengulang kesuksesan di masa lalu dalam melawan Uni Soviet dan hal ini tentu akan menjadi ajang pembuktian bagi Rusia untuk menunjukan kekuatan sang pewaris terbesar Uni Soviet. Lalu bagaimana analisis jika terjadi perang antara kedua negara besar ini ? berikut reviewnya.

global_fire_power_sm2

Dari data diatas dapat diketahui bahwa Rusia unggul di darat dan Amerika unggul di laut dan udara. Jika ada perang antara mereka tentunya Amerika dan Rusia tidak akan mendapat bantuan dari sekutu mereka. Rusia kemungkinan akan dibantu oleh Cina, Iran, Suriah, India, Pakistan, Korea Utara, Afrika Selatan, Vietnam dan Brazil, Kirgistan, Turmenistan, Azerbaijan serta beberapa milisi seperti Hezbullah. Sementara Amerika akan dibantu oleh NATO, Korea Selatan, Singapura, Israel dan Australia. Menurut perkiraan saya jika konflik diantara mereka pecah maka beberapa anggota NATO seperti Turki akan berbelok dan negara netral seperti Libya dan Mwsir  dan lain lain akan berbelok ke Rusia.

Di darat kubu Rusia akan mengeluarkan tank T 90 dan T 14 yang akan dibackup oleh Zulfiqar, T 72, dan beberapa jenis tank produksi Pakistan dan Cina. Sementara di kubu barat mereka akan bertumpu pada Abrams, Leopard, Merkava, Challenger dan tank lainnya. Di darat sudah pasti pasukan kubu Amerika akan menemui masalah yang sangat besar mengingat jumlah pasukan mereka kalah telak bila dibandingkan dengan pasukan kubu Rusia belum lagi kemampuan perang gerilya dari kubu Rusia yang akan disokong oleh Hezbullah, Garda Revolusi Islam Iran dan Vietnam yang terkenal dengan taringnya di perang gerilya. Dalam perang di darat kemungkinan besar pasukan koalisi Rusia yang akan mendapatkan kemenangan.

ZULFIQAR

Perang di udara juga tidak kalah seru dibandingkan perang di darat. Kubu Rusia akan mengandalkan Su 27. Su 30, Su 35, T 50 Pakfa, Su 34, Mig 35, Mig 29, Tu 160 dan Tu 95. Selain itu kemapuan udara Rusia juga akan dibackup oleh J 20, J 31. JF 17, J 15, Saeqh. F14, Tucano dan lain lain. Di kubu Amerika akan mengandalkan F 15, F 16, F18, F 22. F 35, B 2, B 52 yang akan dibackup oleh Rafale, Typhoon, Golden Eagle, Harrier, dan mungkin juga Gripen. Dari segi jumlah memang jumlah Aircraft Amerika yang unggul tapi sebagian besar jumlah Aircraft Amerika hanyalah Drone saja. Di perang udara ini kemampuan perang elektronik sangat mutlak diperlukan, siapa yang dapat melakukan perang elektronik lebih kuat dan dapat menahannya maka dialah yang unggul. Pesawat generasi ke 5 Amerika yaitu f 22 dan F35 akan berhadapan dengan T 50, J 20 dan J 31 Cina. Di udara ini pula akan ada adu kemapuan amtara Apache AH 64 melawan Kamov Ka 52. Di sini kemapuan antara S 400 dan Patriot akan diuji. Selain itu sangat dimungkinkan akan terjadi perang nuklir, jika perang nuklir itu benar benar terjadi sangat mungkin blok timur akan memakai Satan dan Topol sebagai perata daratan Amerika. Sementara Amerika juga telah banyak memasang sistem penangkis misil balistik di sekitar Eropa.Di Perang udara juga akan menjadi ajang bagi Cina untuk memamerkan misil penghancur satelitenya. Amerika juga tak mau ketinggalan untuk memakai senjata canggihnya yaitu alat pengendali cuaca walaupun Rusia juga dikabarkan memiliki alat itu sisa peninggalan Uni Soviet . Untuk perang di udara kemungkinan peluang menang diatara dua negara adalah 50 VS 50.

Rudal Rafael Spyder, salah satu andalan Singapura dalam pertahanan udara

Perang di laut juga tak kalah seru, amerika yang memiliki banyak kapal induk yang akan dibantu kapal induk negara negara NATO akan lebih mudah dalam melakukan invasi. Sementara Rusia akan mengandalkan satu satunya kapal induknya yang masih aktif yaitu Admiral Kutznetsov yang akan dicover oleh 1 kapal induk Cina, 2 kapal induk India dan 1 buah dari Brazil. Untuk perang di laut luas sudah hampir bisa dipastikan bahwa Amerika yang akan menang dikarenakan jumlah armada lautnya yang luar biasa. Untuk perang di laut sempit dan dangkal Rusia dapat bernafas lega karena kehadiran ratusan kapal patroli mili dipandu misil anti kapal induk dan kapal selam mini milik Iran yang akan menghancurkan armada kapal induk Amerika saat mendekati laut dangkal. Untuk perang di laut dangkal sudah hampir dipastikan pasukan Rusia yang akan menang. Untuk perang di laut dapat disimpulkan bahwa kemungkinan Amerika untuk menang adalah 60 % dan Rusia 40 %.

Laser Weapon System

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa jika terjadi perang antara Rusia dan Amerika maka Rusia kan meraih kemenangan dengan perbandingan 55 % vs 45 % walaupun banyak armada dan fasilitas Rusia dan koalisinya yang akan hancur. Tapi bukan berarti Amerika dan Sekutunya tidak akan memberikan kejutan.

 

Iran atau Arab Saudi yang membantu Amerika dan Israel ?

Posted on

COBRA BMT-2 APC

Saat Revolusi Iran tahun 1979, AS dan Arab Saudi serta negara2 Arab lainnya mendukung Iraq (Saddam Hussein) menyerang Iran. Terjadi perang selama 8 tahun (1980 1988) yg menewaskan 1 juta orang (500 ribu Iran dan 500 ribu Iraq) dan biaya perang Rp 10 ribu trilyun.

Sebelumnya, Iran sebagaimana Arab Saudi merupakan sekutu erat AS di zaman Syah Iran, Reza Pahlevi. Namun sejak Reza terguling, Kedubes AS diserbu dan disandera mahasiswa Iran selama 444 hari untuk kemudian ditutup hingga saat ini.

Sayang negara2 Arab justru menagih hutang kepada Irak atas bantuan menyerang Iran tsb, sehingga Saddam menyerang Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Saddam itu Sunni dan didukung pemerintahan yg Sunni meski 60% warga Iraq itu Syi’ah.

Negara2 Arab tak mampu melawan Iraq. Mereka meminta AS dan menyediakan pangkalan militer bagi AS guna menyerang Iraq dan membunuh Saddam. Akibatnya Saddam dan Pemerintah Sunninya jatuh. DENGAN DUKUNGAN AS Yang naik, justru pemerintah dari kalangan Syi’ah.

Jadi salah jika ada yang mengatakan Iran yg membantu AS menyerang Iraq.

Justru Arab Saudi dan negara2 Arablah yg menyediakan pangkalan militer bagi AS guna menyerang Iraq.

Selain menyediakan Pangkalan Militer bagi AS, ternyata Arab Saudi juga menyumbang teroris ke Iraq. 53 Pembom Bunuh diri yang menargetkan peziarah Syi’ah ternyata berasal dari Arab Saudi. Apalagi ternyata banyak lembaga-lembaga dan Media Massa “Islam” yang didanai dengan Petro Dollar Arab Saudi bukan sekedar mengulas perbedaan Sunni-Syi’ah, tapi juga mengobarkan kebencian sehingga mengadu-domba Sunni dengan Syi’ah.

Rezim Arab Saudi dikenal luas dengan reputasinya sebagai sekutu utama Amerika dan Barat di kawasan Jazirah Arab. Arab Saudi bersama Amerika memerangi mujahidin Anshar Syariah di Yaman Selatan. Agresi militer AS dan NATO ke Irak pada Perang Teluk 1990 dan perang 2003 berangkat dari pangkalan-pangkalan militer AS dan Inggris di Arab Saudi dan Kuwait.

IRAQ SELANJUTNYA Dengan naiknya PM Nuri Al Maliki dari Syi’ah dan sebetulnya Presiden Iraq itu dari Wahabi, mungkin benar kalau Iran/Syi’ah kemudian diuntungkan. Tapi aneh jika Media Massa Islam yang didanai Petro Dollar Arab Saudi sama sekali tidak menyinggung dosa Arab  yang menyediakan pangkalan militer AS untuk menyerang  Iraq hingga sekarang. Adilkah itu? Jujurkah itu?

Munculnya Syi’ah jadi PM Iraq belum tentu dia taat pada Imam Syi’ah atau sejalan dgn Pemerintah Iran. Buktinya mantan Syah Iran Reza Pahlevi, puteranya, dan para Pendukung Syah Iran membangkang thd Imam Syi’ah dan Iran serta bersehabat dgn AS. Ini sama halnya dgn Saddam Hussein yang Sunni, tapi kemudian justru menentang Arab Saudi dan AS. Kalau di Indonesia, ada Islam KTP yang justru menentang Islam. Jadi tak bisa disebut naiknya seorang Syi’ah jadi PM seperti Nuri sebagai selingkuh antara AS dgn Iran. Apalagi sebenarnya yang jadi Presiden adalah seorang Wahabi meski kemudian tersingkir karena melakukan pemboman thd kaum Syi’ah yang sebetulnya mayoritas di Iraq.

Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Meski Saddam Hussein adalah Sunni, namun 60% penduduk Iraq adalah Syi’ah. Ini berlawanan dgn Suriah di mana Syi’ah cuma 15% dan Sunni 85%, tapi yang jadi presiden adalah orang Syi’ah. Cuma aneh juga kalau ada Media Wahabi seperti Arrahmah.com dgn data tidak jelas menyebut Sunni mayoritas di Iraq dgn jumlah 60% padahal berbagai fakta di media massa termasuk Sensus di zaman Saddam menyebut Syi’ah 60% di sana. Apalagi Iraq itu kan memang pusatnya Syi’ah meski sekarang bergeser ke Iran. Lihat:

Britannica: Syi’ah 60%, Sunni 40% Sumber: CIA World Fact Book: Syi’ah 60%-65%, Sunni 32%-37% dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Iraq

Kalau digoogle lebih banyak lagi, maka kita akan tahu kalau Syi’ah memang mayoritas di Iraq. Beritanya dari sumber yg kredibel itu amat Mutawatir. Jadi aneh kalau ada Media Wahabi macam Arrahmah.com bilang Sunni adalah mayoritas di Iraq. Itu bohong besar. Kalau Suriah, itu benar. Jika hal seperti statistik yang pasti dan jelas saja sudah bohong, bagaimana dengan berita2 lainnya?

Kalau ada 2 pihak yang berperang, sebaiknya didamaikan. Bukan malah dikompori.

Agama Islam tidak pernah mengajarkan ummatnya jadi Sektarian/Ashobiyyah. Islam itu adalah Rahmatan lil ‘Alamiin.

Apalagi sampai membunuh orang yang masih bersyahadah tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah serta masih sholat.

Ummat Islam itu berjihad/berperang demi ISLAM! Bukan demi Sunni atau pun demi Syi’ah:

Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.”

(HR. Ahmad)

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah

(HR Abu Dawud).

Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.

INI ADALAH DAFTAR PANGKALAN UDARA AMERIKA SERIKAT di negara-negara Islam. Dari situ kita tahu ternyata Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Turki menyediakan Pangkalan Militer bagi AS. Ada pun Afghanistan dan Iraq baru “memberi” pangkalan militer setelah diserang dan dikuasai AS. Ada 5 Pangkalan Udara Amerika Serikat di Arab Saudi seperti:

Eskan Village Air Base, Saudi Arabia

King Abdul Aziz Air Base, Dhahran, Saudi Arabia

King Fahd Air Base, Taif, Saudi Arabia

King Khalid Air Base, Khamis Mushayt, Saudi Arabia

Riyadh Air Base, Riyadh, Saudi Arabia

Sebelumya Media Massa Wahabi yang didanai Petro Dollar Arab Saudi (Sekutu AS dan Israel) juga memberitakan bahwa roket Hamas bukan bantuan dari Iran. Padahal roket Fajr 5 yang ditembakkan Hamas adalah buatan Iran. Iran juga memberi pembuat rudal ke Hamas sehingga Hamas dapat membuatnya sendiri. Itulah sebabnya Hamas selain berterimakasih kepada Iran. tanyakan pada pimpinan tertinggi Hamas tentang ini

Ada lagi yang mempertanyakan “Adakah 1 Peluru Iran yang jatuh ke Israel?” Secara langsung mungkin tidak ada karena jarak Israel-Iran yang cukup jauh (1500 km). Lihat peta:

jarak iran dengan israel

di peta terlihat jarak iran dengan israel adalah 1000 km lebih dan mengapa Arab dan Mesir tidak menyerang israel padahal mereka memiliki perbatasan langsung dengan Israel.

Tapi dengan perang Gaza selama 8 hari kemarin kita tahu roket Fajr 5 Iran mendarat di Israel. Sebelumnya juga roket-roket Iran dan senjata lain dipakai oleh pejuang Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Tak heran jika pimpinan Hamas seperti Khaled Meshaal dan Ismail Haniyeh sering pergi ke Teheran untuk mendapat dukungan dana dan senjata dari Iran.

Saat pemimpin Iran mengecam AS dan Israel dengan pedas, banyak yang menganggapnya cuma pura-pura. Sekarang kita tanya, “Beranikah Raja Arab Saudi mengecam AS dan Israel?” SBY saja tidak berani. Jadi dengan mengecam pun butuh keberanian yang tinggi.

Kaum Wahabi sering menganggap Iran cuma pura-pura melawan AS. Tidak akan terjadi perang. Padahal jika kita lihat, sudah banyak konflik yang terjadi:

  1. Penyerbuan Kedubes AS dan penyanderaan staf Kedubes AS selama 444 hari pasca Revolusi Iran yang menggulingkan sekutu AS, Syah Iran Reza Pahlevi. Mana ada negara di dunia ini yang berani menyerang Kedubes AS? Di Indonesia, demo di depan Kedubes AS saja bisa ditembak mati oleh Polisi.

AS pernah mencoba membebaskan sandera tsb dalam Operasi Eagle Claw. Namun gagal karena badai gurun. Pesawat dan Helikopter militer AS saling bertabrakan dan menewaskan sebagian pilot dan penumpangnya. Sisanya ditahan Iran.

Hingga saat ini, tidak ada Kedubes AS di Iran. Bandingkan dengan Kedubes2 AS yang hadir di Arab Saudi, Mesir, dan Turki. Iran jelas lebih berani dalam menghadapi kafir harbi AS yang membunuh ummat Islam di Iraq, Afghanistan, dan menghalangi berdirinya syariat Islam di seluruh dunia

  1. U.S.S Vincennes menembak jatuh pesawat Airbus A300 Iran itu segera setelah lepas landas dari kota Bandar Abbas, Iran, tanggal 3 Juli tahun 1988. 290 orang Iran tewas! Washington mengatakan Vincennes keliru mengira pesawat penumpang itu sebuah pesawat tempur jet Iran yang bermusuhan.
  2. AS dan Israel pada tahun 2010 dan 2011 membunuh ahli nuklir Iran untuk menghambat program nuklir Iran. AS dan Israel menurut media massa Barat sendiri melakukan sabotase yang mengakibatkan ledakan hebat di markas Garda Revolusi Iran pada 12 November lalu yang meratakan sebagian besar bangunannya dan menewaskan 17 orang, termasuk pendiri program misil balistik Iran, Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam.
  3. Terakhir Iran membajak pesawat mata-mata AS RQ-170 Sentinel yang menyusup sejauh 250 km ke Iran dari Afghanistan. Presiden AS, Barack Obama, jadi bahan tertawaan publik saat meminta Iran untuk mengembalikan pesawat mata-matanya. Ini ibarat maling yang membawa tangga, ketika tangganya ketinggalan, dia meminta tangganya dikembalikan oleh orang yang dia curi.
  4. Saat Perang Iran-Iraq (1980-1988) sebetulnya AS juga membantu Iraq dengan mengirim kapal2 induk dan kapal perangnya ke Teluk Persia. Namun Iran menggelontorkan ranjau-ranjau laut sehingga beberapa kapal perang AS USS Samuel B. Roberts (FFG-58) bolong terkena ranjau Iran. Silahkan baca:

USS Samuel B. Roberts (FFG-58) is one of the final ships in the United States Navy‘s Oliver Hazard Perry class of guided missile frigates (FFG). The ship was severely damaged by an Iranian mine in 1988, leading U.S. forces to respond with Operation Praying Mantis.

http://en.wikipedia.org/wiki/USS_Samuel_B._Roberts_(FFG-58)

AS membalasnya dengan Operasi Praying Mantice yang menghancurkan 5 kapal perang dan speed boat Iran serta instalasi minyak Iran. Perang Laut yang dilakukan AS terhadap Iran adalah Perang Laut yang terbesar setelah Perang Dunia 2:

Operation Praying Mantis was an attack on April 18, 1988, by U.S. naval forces within Iranian territorial waters in retaliation for the Iranianmining of the Persian Gulf during the Iran–Iraq war and the subsequent damage to an American warship.

This battle was the largest of the five major U.S. surface engagements since the Second World War

http://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Praying_Mantis

Saat kapal2 perangnya banyak karam ditembak AS, Iran segera menggunakan speed boat2 kecil yang cepat sehingga cukup merepotkan AS. Jadi keliru jika menganggap tak pernah ada konflik antara AS dan Iran.

Kalau pun AS tidak menyerang Iran secara besar-besaran, ini karena Iran dengan penduduk 80 juta jiwa dan mampu membuat senjata sendiri (pesawat tempur pun bisa) jauh lebih kuat daripada Iraq yang penduduknya cuma 25 juta jiwa. Imam Syi’ah Ali Khamenei yang ada di Iran pun diperkirakan bisa membangkitkan 160 juta kaum Syi’ah di Timur Tengah guna melawan AS.

Oleh sebab itulah dengan menggunakan Arab Saudi dan Wahabi sebagai sekutunya, AS mencoba mengadu-domba Sunni dengan Syi’ah sehingga saling bunuh dan lemah.

Syi’ah memang beda dengan Sunni. Namun hendaknya perbedaan/penyimpangan itu disikapi dengan dakwah yang maw-izhonul hasanah dan bil hikmah. Dengan baik dan bijak. Bukan dengan mengobarkan kebencian sehingga jadi saling bunuh. Jika itu terjadi, kaum Yahudi dan Nasrani yang dimurkai Allah dan sesat justru akan tertawa terbahak-bahak.

Nabi tidak main bunuh terhadap orang-orang kafir yang menolak dakwahnya. Contohnya saat penduduk Thaif menolak dakwah Nabi bahkan melempar beliau dengan batu, saat Malaikat menawarkan bantuan untuk menghancurkan penduduk Thaif, Nabi menolak. Siapa tahu nanti keturunan mereka masuk Islam. Begitu kata Nabi.

Jadi tindakan Arab Saudi dan Wahabi yang mengadu- domba dan mengirim ratusan pembom bunuh diri guna membunuh peziarah Syi’ah dan masjid2 Syi’ah di Iraq berlawanan dengan Islam. Itu memancing tindakan balas dendam dari kaum Syi’ah. Itu adalah tindakan adu-domba yang mengakibatkan Sunni dan Syi’ah jadi saling bunuh.

Di Libya sesama Sunni, 50 ribu Muslim tewas saling bunuh dalam perang Saudara. Hizbut Tahrir yakin betul bahwa Khilafah akan berdiri usai Khaddafi jatuh. Ternyata “Khilafah”nya cuma boneka AS saja… Di Iraq hampir 1,5 juta Muslim (Sunni dan Syi’ah) tewas karena saling bunuh. Di Suriah 60 ribu Muslim (Sunni dan Syi’ah) juga tewas. Sementara tentara AS dan Israel yang menyerang dan membantai ummat Islam di Palestina, Iraq, dan Afghanistan justru aman. Apa itu tidak ironis? Apakah mereka tidak berpikir akan hal ini?

Membunuh sesama Muslim dan membiarkan orang-orang kafir bukanlah ciri orang yang beriman:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

\Wahabi menuduh Iran cuma taqiyyah atau pura2 perang melawan AS dan Israel. Padahal sebetulnya Iran berteman dengan AS dan Israel. Begitu kata Wahabi. Betulkah itu?

Allah melarang kita untuk melakukan buruk sangka/su’u zhon karena sebagian zhon itu dosa (Al Hujuraat ayat 12). Nabi juga melarang kita “Membaca Hati” manusia karena kita tidak mampu. Kita hanya bisa menilai yang zahir. Yaitu lisan/ucapan dan perbuatan. Perhatikan baik-baik hadits dibawah:

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a.: Rasulullah SAW. pernah mengirimkan kami dalam suatu pasukan (sariyyah); lalu pada pagi hari kami sampai ke Huruqat di suku Juhainah, di sana saya menjumpai seorang laki-laki, dia berkata, “La ilaha illallah – tiada tuhan selain Allah,” tetapi saya tetap menikamnya (dengan tombak), lalu saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Setelah sampai di Madinah, saya memberitahukan hal tersebut kepada Nabi SAW., lalu beliau bersabda, “Dia mengatakan, ‘La ilaha illallah’, kemudian kamu membunuhnya?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh dia mengatakannya hanya kerana takut pada senjata.” Beliau bersabda, “Tidakkah kamu belah dadanya, lalu kamu keluarkan hatinya supaya kamu mengetahui, apakah hatinya itu mengucapkan kalimat itu atau tidak?” Demikianlah, beliau berulang-ulang mengucapkan hal itu kepada saya sehingga saya menginginkan seandainya saya masuk Islam pada hari itu saja. Sa’ad berkata, “Demi Allah, saya tidak membunuh seorang Muslim sehingga dibunuhnya oleh Dzul Buthain, maksudnya Usamah.” Lalu ada orang laki-laki berkata, “Bukankah Allah SWT. telah berfirman, Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS Al-Anfal (8): 39).” Lalu Sa’ad menjawabnya, “Kami sudah memerangi mereka supaya jangan ada fitnah, sedangkan kamu bersama kawan-kawanmu menginginkan berperang supaya ada fitnah.” (1: 67 – 68 – Sahih Muslim)

Pemimpin Iran secara lisan mengecam AS dan Israel. Sementara raja Arab Saudi tidak berani melakukan itu. Tidak ada Kedubes AS di Iran. Sementara di Arab Saudi selain ada Kedubes AS, ada juga 5 Pangkalan Udara Militer AS guna menyerbu negara-negara Islam di sekitar situ seperti Iraq dan Afghanistan. Iran membantu Hizbullah dan Hamas dengan dana dan senjata padahal AS mencap kedua organisasi tsb sebegai teroris. Sementara Arab Saudi sama sekali tidak membantu. Yang dibantu cuma Fatah yang sekuler dan agak bersahabat dengan Israel. Saat perang Iran-Iraq dan Operasi Praying Mantis, Iran benar-benar berperang melawan AS. Nah sejak tahun 1980 hingga sekarang, adakah Arab Saudi berperang melawan AS? Ada tidak?

Iran secara zahir dengan lisan dan perbuatan sudah membuktikan bahwa mereka menentang AS dan Israel.

Sementara Arab Saudi dan Wahabi yang mengaku sebagai Penegak Tauhid, Pembela Sunnah justru secara perbuatan bersahabat dengan AS dan Israel. Itulah yang namanya taqiyyah. Ucapan beda dengan Perbuatan:

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani)…” [Al Maa-idah 52]

Kita baca lagi ayat lainnya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau kita kritis dan berpikir, niscaya kita tahu justru Arab Saudi dan Wahabi itu perbuatannya menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits: Bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani (AS DAN ISRAEL)!

Kaum Yahudi selalu berusaha mengadu-domba ummat Islam sejak zaman Nabi. Dulu mereka nyaris berhasil mengadu-domba Suku ‘Auz dan Bani Khazraj hingga masing-masing suku sudah berteriak2 marah dan mengambil senjatanya. Alhamdulillah di zaman itu masih ada Nabi yang memarahi mereka dan mencegah mereka.

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)

Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)

Sekarang dari tahun 1980 (kita batasi saat kita sudah hidup saja) hingga sekarang kaum Yahudi juga berusaha mengadu-domba ummat Islam:

1980-1988: Iraq dengan dibantu negara2 Arab dan AS menyerang Iran yang saat itu masih lemah akibat Revolusi Islam Iran yang dijalankan oleh Imam Khomeini. 1 Juta orang tewas. Bukan cuma Syi’ah yang tewas, tapi juga Sunni. Tidak ada yang menang.

2003-Sekarang: Setelah Iraq diserbu AS dan dipasang pemerintah boneka AS, kaum Sunni dan Syi’ah diadu-domba. Paling tidak ada lebih dari 100 pembom bunuh diri di mana 53 orang di antaranya dari Arab Saudi yang membom peziarah Syi’ah dan masjid Syi’ah. Ini dibalas kaum Syi’ah sehingga 1,35 juta Muslim baik Sunni dan Syi’ah tewas karenanya.

2012: Ummat Islam di Libya sesama Sunni saling bunuh lewat perang Saudara. Khaddafi yang anti AS digulingkan pemberontak dukungan AS. 50 ribu Muslim tewas. Meski Hizbut Tahrir menyatakan akan muncul Khilafah usai Khaddafi jatuh, ternyata yang muncul adalah pemerintah Boneka AS lengkap dengan Kedubes AS di dalamnya.

2012: Suriah juga dilanda pemberontakan dukungan AS yang sekarang dikaitkan dengan isyu Sunni vs Syi’ah. Padahal sebelumnya rezem Assad mendukung penuh perjuangan Hamas yang sunni sehingga menyediakan kantor Hamas Pusat di Suriah saat negara2 Arab justru menolaknya. Baru November 2012 Assad mengusir Hamas karena mendukung pemberontak Suriah. 60 ribu Muslim tewas karenanya.

Dari tahun 1980 saja sudah 2,4 juta Muslim (Sunni dan Syi’ah) tewas karena adu-domba. Harusnya kita cerdas dan tidak mau diadu-domba. Ini belum 100% Sunni dan Syi’ah yang teradu-domba. Masih banyak yang hidup damai seperti di Indonesia. Tapi kalau semua sudah terhasud, bisa jadi 200 juta Muslim lebih yang tewas sebagaimana di Eropa dulu waktu terjadi perang antara kelompok Katolik dan Protestan.

Bayangkan jika Indonesia terjadi perang dan saudara2 anda terbunuh karenanya. Bahkan jika di Indonesia cuma ada 1 juta orang Syi’ah yang ditindas pun jika 10 ribu orang dari mereka jadi teroris yang balas dendam dan membomi masjid-masjid Sunni, kita tidak bisa lagi beribadah dengan aman. Nabi tidak pernah semena-mena membunuh orang2 kafir kecuali mereka yang menyerang di Medan Perang. Itu pun jika mundur, Nabi membiarkan mereka mundur dan menawan orang2 yang tertinggal. Tidak membunuhnya. Itu terhadap orang2 Kafir yang Musyrik! Apalagi terhadap sesama Muslim yang masih menyembah Allah, masih bersyahadah, dan masih sholat.

Islam itu seakar dengan kata Salam yang berarti DAMAI. Sebarkan SALAM. Sebarkan DAMAI! Islam adalah Rahmat bagi semesta alam. Bukan teror/perang bagi alam.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).

Nasib Negara Amerika Ada di Tangan Rusia

Posted on

Rusia dan Amerika adalah dua kekuatan dunia yang berlainan kutub. Rusia memiliki ideologi komunis sedangkan Amerika memiliki ideologi liberal menjadikan kedua negara ini sering memanas. Kedua negara ini diyakini memiliki ribuan hulu ledak nuklir yang siap mengebom apa saja.

Bom Hiroshima memiliki daya ledak ‘hanya’ 15 kilo ton (KT) atau setara 15.000 ton TNT. Bom tersebut mampu menghilangkan 70.000 nyawa. Sementara, sebuah SS-18 dapat membawa hingga sepuluh buah hulu ledak nuklir terpisah yang masing-masing berdaya ledak sekitar 750 KT. Beberapa rudal juga dilengkapi senjata hulu ledak raksasa 20.000 KT.

Dulu, Amerika Serikat lebih unggul dari Rusia dalam hal teknologi dan jumlah rudal. Namun, pada awal 1970-an ketika SS-18 mulai siap digunakan dalam jumlah besar, Rusia mengejar ketertinggalan itu dan langkah Moskow mulai tak terbendung. Pada 1990, Moskow memiliki sekitar 40.000 stok hulu ledak nuklir, dan AS hanya memiliki 28.000 buah. Hanya dengan menggunakan 3.000 hulu ledak SS-18, Rusia dapat memusnahkan semua manusia di daratan Amerika Serikat hanya dalam waktu 30 menit.

SS-18 yang diberi nama kode Satan oleh Nato ini memiliki berat 209.000 kilogram dan panjang 31 meter. Rudal Rusia yang sangat akurat tersebut tidak hanya dapat menembus dan menghancurkan silo-silo rudal AS, yang diperkuat hingga 300 psi, tetapi silo-silonya sendiri diperkuat secara luar biasa hingga 6.000 psi. Hal itu membuat rudal-rudal tersebut tidak terkalahkan. Hebatnya, dengan ukuran seberat dan sepanjang itu, rudal ini dapat melakukan gerakan sidewinding, yakni serangkaian gerakan melengkung berbentuk S untuk menghindari pertahanan antirudal. Selain itu, peralatan elektronik mikronya bisa diperkuat sehingga dapat berfungsi bahkan ketika terkena serangan nuklir.

Menyasar Setan

SS-18 memberi ancaman eksistensial bagi Amerika Serikat, sehingga rudal ini menjadi isu fokus dalam pembicaraan tentang persenjataan di antara dua negara adidaya. AS bersedia menyingkirkan rudal strategis mereka yang ditempatkan di Eropa jika Rusia setuju mengurangi kekuatan roketnya secara signifikan. Dari peluncuran SS-18 sebanyak 308 silo pada 1991, Moskow telah mengurangi jumlahnya hingga 154 buah untuk mematuhi perjanjian START I.

BELAJAR BAHASA RUSIA

TEKNOLOGI MILITER RUSIA

START II bertujuan mengeliminasi semua rudal SS-18, namun perjanjian itu tidak diberlakukan sehingga rudal-rudal itu tetap aktif. Dari sudut pandang Rusia, penundaan tersebut jelas menguntungkan. Seiring terus memburuknya hubungan Rusia dengan AS setelah NATO berekspansi hingga mendekati perbatasan Rusia, Moskow memutuskan untuk menyiapkan senjata supernya. Sekarang, setelah romansa palsu Rusia-AS tahun 1991 lama berlalu, jelas Kremlin merasa rudal balistik antarbenua yang ditempatkan di silo yang berlapisan keras wajib dimiliki untuk menjaga wibawa negara tersebut.

Kini mendadak SS-18 kembali ramai dibicarakan karena terjebak dalam perang sanksi. Terkait sanksi Barat yang diberlakukan untuk Rusia, Moskow hendak menghentikan penjualan mesin roket pada Amerika Serikat jika mesin itu digunakan untuk tujuan militer. Beberapa anggota Kongres AS pun mengusulkan langkah yang berbahaya.

Para anggota legislatif AS menghendaki pemerintahan mereka memulai pembicaraan dengan pemerintah Ukraina untuk mengakhiri kerja sama antara Kiev dan Moskow yang telah lama terjalin terkait perawatan SS-18.

/jelas jika senjata senjata itu digunakan dapat berakibat bencana yang sangat besar di muka bumi,namun dari statistik diatas rusia jauh lebih unggul dalam bidang nuklir dibandingkan amerika

Iran, Negara Pelindung Palestina

Posted on

Perhatikan, awalnya seluruh wilayah adalah Palestina (warna hijau), kini wilayah Palestina sangat sedikit (sekitar 3%)

  Israel akan lebih sulit menghadapi pasukan Hamas di Gaza. Sebab, Iran secara terbuka menyatakan akan terus mempersenjatai warga Palestina untuk melawan Israel. Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah sebuah pesawat mata-mata tanpa awak milik Israel memasuki wilayah Iran. Pesawat yang telah ditembak jatuh tersebut melintas di Natanz, area pengayaan uranium terbesar di Iran.

’’Kami akan terus mempersenjatai Tepi Barat (Palestina, Red) dan kami berhak untuk membalas Israel,’’ kata Komandan Pasukan Udara Garda Revolusi Iran Jenderal Amir Ali Hajizadeh. Pernyataan terbuka tersebut dapat membuat hubungan Iran dan Israel semakin berantakan

Hajizadeh juga membenarkan bahwa Iran menyuplai senjata ke pejuang Islam dan Hamas yang ada di Gaza sejak perang meletus 8 Juli lalu. Termasuk di antaranya teknologi roket peluncur yang kerap dipakai Hamas untuk menyerang Israel. Selama ini Iran memang dikenal sebagai pendukung utama Hamas. Negeri Persia juga tidak pernah mengakui Israel menjadi sebuah negara.

Rudal Iran

Bukan tanpa alasan Iran dukungannya pada Hamas. Pemicunya adalah Israel sendiri, sebab, Israel berusaha memata-matai dan menghancurkan wilayah pengayaan uranium Iran di Natanz. Pesawat mata-mata ini sendiri telah ditembak jatuh berulangkali dan Israel membenarkan hal tersebut tanpa mau mengonfirmasi lebih jelas.

Israel selama ini kerap mengancam akan menghancurkan tambang uranium Iran. Ada kemungkinan mereka ingin menyerang instalasi nuklir di Natanz. Di Natanz, ada 16 ribu mesin pemisah uranium. Sekitar 3 ribu di antaranya berada di tambang Fordo yang terletak di dalam area pegunungan. Letaknya yang tersembunyi membuat tambang ini sulit dihancurkan musuh.

Hajizadeh menambahkan bahwa pesawat tanpa awak yang digunakan Israel adalah jenis Hermes yang mampu menghindari radar. Pesawat tersebut mampu terbang dengan daya jangkau 800 kilometer. ’’Serpihan pesawat telah dikumpulkan dan akan dianalisis,’’ ujarnya. Pesawat ini oleh Iran mungkin akan dibongkar dan dirakit ulang seperti drone amerika yang jatuh beberapa waktu lalu.