militer

Analisis Serangan Amerika di Suriah

Posted on

  Semenjak beberapa tahun terakhir Suriah beserta beberapa negara di kawasan seakan menjadi neraka yang disebabkan oleh keganasan dan ketamakan nafsu. semenjak Arab spring bergulir tahun 2011 silam seakan negara di kawasan menjadi rawan akan gesekan dan geopolitik menjadi sangat labil. banyak pihak yang terlibat dalam perang yang melelahkan ini. Berbagai faksi proxy dukungan NATO dan pihak lain, ekstrimis hingga pasukan pemerintah saling hajar dan bunuh untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Perang Suriah yang begitu rumit ini seakan enggan untuk disudahi dan menjadi makin larut dalam kerumitan.

 Kita dapat melihat baru baru ini Pasukan Amerika melakukan taktik klasiknya, menghujani tomahawk ke basis pemerintah Suriah. Strategi yang terbukti sukses ketika penggulingan Sadam Hussein dan Penghancuran Khadafi ini mereka coba terapkan lagi kepada pasukan Suriah di Al Syairat. Pasukan Suriah yang tengah diatas angin setelah kemenangan yang mereka dapatkan dari Menggempur ISIS, FSA dan beberapa faksi ekstrimis terpaksa harus menelan pil pahit usai serangan Amerika terhadap mereka.

  Serangan Amerika ke Suriah ini diklaim oleh Amerika sebagai balasan atas serangan gas kimia ke oposisi. Sangat ironi keputusan Amerika ini sangat tergesa gesa mengingat serangan gas itu belum mereka selidiki dengan benar dan belum ada bukti yang kuat mengenai hal itu. Bahkan pemerintah Russia, Suriah dan Iran mengatakan serangan gas kimia itu adalah bohong. Hal senada diungkapkan oleh ikatan dokter Swedia yang mengatakan bahwa serangan gas itu adalah palsu dan sengaja dibuat buat oleh pihak tertentu. Tentu jika hal ini benar maka akan menjadi pisau bagi Amerika dan pihak pihak yang mendukung serangan Amerika.

  Serangan ini juga membuktikan bahwa Amerika terbukti bermata dua dalam konflik di Suriah. Mereka mengatakan melawan teroris namun di lain sisi tindakan mereka ini justru dapat menyuburkan teroris di kawasan. Beberapa saat setelah serangan Amerika ke Suriah ini menjadikan teroris ISIS memiliki nyali untuk menggempur pasukan Suriah dan merebut wilayah dari pasukan resmi pemerintah. Kejadian ini sangat mirip dengan kejadian di Deir ez-Zor yang mana saat itu ISIS tengah dalam kondisi terpojok kembali meraih kemenangan karena Amerika.

  Tindakan tergesa gesa Amerika ini mungkin juga sebagai langkah melindungi sekutu mereka Saudi dan Israel. Telah lama Israel adalah musuh abadi bagi Suriah dan tentu akan menjadi masalah bagi Israel bila Suriah dapat memenangkan pertempuran dengan para teroris dan menjadi ancaman bagi sekutunya. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu adanya penggantian terhadap pemerintah Assad terhadap pemerintahan yang pro terhadap mereka. Serangan ini secara tidak langsung juga melemahkan lawan mereka, Rusia mengingat di Negara ini berdiri pangkalan militer Rusia dan menjadi tangan bagi Rusia terhadap segala kepentingan di kawasan.

  Sumber daya alam juga menjadi alasan terselubung, Minyak dan gas yang tersimpan di Suriah menjadikan siapa saja bernafsu untuk dapat menguasainya. Terlepas dari tangan tangan kotor penuh darah tentu minyak merupakan komoditas yang sangat penting dan berharga. Jumlah minyak dunia yang terus menipis tentu membuat barang ini semakin mahal.

Akhirnya Serangan Amerika di Suriah ini menjadi sesuatu yang sangat sarat akan kepentingan politik. Amerika menginginkan Assad lengser dan sumber daya alam yang benar benar menggiurkan. Konflik berkepanjangan seperti di Suriah bukan tidak mungkin juga akan terjadi di Indonesia kedepannya jika kita masih mudah untuk dipecah seperti di Timur Tengah, untuk itu perlu bagi kita untuk belajar dari konflik di Suriah dan berusaha agar jangan sampai ini terjadi di Indonesia.

Iklan

Mengenal Lebih Dekat Tank Zulfiqar

Posted on

zolfaghar1-pic4

Tank Zulfiqar atau zolfaqor merupakan tank tempur utama Iran yang mulai diproduksi semenjak 1996. Nama Zulfiqar diambil dari nama pedang khalifah ke 4 umat Islam Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib. Hingga saat ini Iran telah memiliki 3 varian Zulfiqar yaitu Zulfiqar I, II dan III. Tank Zulfiqar ini diawaki oleh 3 kru yaitu komandan, penembak dan pengemudi.

Tank Zulfiqar dikonsep oleh Brigadir Jenderal Mir-Younes Masoumzadeh. Tank Zulfiqar ini menggabungkan kemampuan yang dimiliki oleh tank M48, M60 dan T 72. Prototipe pertama  dari Zulfiqar I dirancang pada tahun 1993 dan diperkenalkan kepada publik tahun 1994. Pada tahun 1997, enam prototipe telah berhasil diciptakan, diuji coba dan dipakai oleh Angkatan Darat Iran. Pada tahun yang sama, Presiden Iran Hashemi Rafsanjani resmi memproduksi secara massal tank Zulfiqar di kompleks industri Kolah Shahid Dooz. Sekitar 600 artileri, 520 tank dan 500 kendaraan lapis baja diproduksi disini.

Beautiful_Zulfiqar-1

Zulfiqar terlihat menggunakan treads dan suspensi dari desain AS , turret rendah dan meriam utama bergaya-Soviet. Terdapat enam “road wheels” di setiap sisi treads dengan “drive sprocket” terpasang di belakang belakang hull dan “track idler” di depan. Lapis bajanya merupakan komposit dan teknologi ERA juga digunakan.

Zulfiqar menggunakan pengisian amunisi otomatis yang menggunakan desain tank T 72 Soviet membuatnya hanya memerlukan tiga awak tidak seperti standar Barat yang membutuhkan empat awak. Meskipun pengisi amunisi otomatis mengurangi kebutuhan awak namun pengisian amunisi bisa dikatakan lebih lambat daripada pengisian amunisi M1 Abrams ( Zulfiqar versi awal ). Untuk senjata menggunakan meriam soothbore 125mm dan senapan mesin koaksial 7,62 mm yang dioperasikan oleh penembak disamping meriam utama ketika dibutuhkan. Disediakan juga senapan anti pesawa 12,7 mm bergaya Soviet diluar. Zulfiqar juga memiliki pelontar granat asap di sepanjang sisi turret.

zolfaghar1-pic1

Tenaga tank disuplai oleg mesin diesel 12-silinder V-46-6 Rusia yang mampu menghasilkan kekuatan 780 tenaga kuda. Mesin ini dilengkapi dengan sistem transmisi otomatis seri SPAT 1200 dengan total 6 gigi transmisi. Mesin ini  dapat membuat tank memiliki kecepatan maksimal 70 km/jam dengan jarak operasional sekitar 450 mil. Tank ini juga mempunyai tangki bahan bakar eksternal untuk meningkatkan jarak operasional dan dipasang di belakang hull.

Penguin, rudal murah tapi gak murahan

Posted on Updated on

pinguin

Rudal anti-kapal Penguin yang disebut AGM-119 oleh militer AS, adalah rudal anti-kapal berbasis pencari IR pasif Norwegia dengan jarak pendek sampai menengah, yang dirancang untuk digunakan angkatan laut. Tak heran jika misil ini biasanya menyerang bagian bagian panas dari kapal seperti bagian mesin.

Penguin pada awalnya dikembangkan dalam sebuah kolaborasi antara Norwegian Defence Research Establishment (NDRE; Norw. FFI) and Kongsberg Våpenfabrikk dimulai pada awal tahun 1960, dengan dukungan keuangan dari Amerika Serikat dan Jerman Barat.

Misil ini sebenarnya memiliki banyak pesaing seperti Kormoron ( jerman ) , Sea Skua (BAe Inggris ), Marte (Sistel Italia ), AGM-84 Harpoon ( Amerika Serikat ),RBS15F ( Swedia ),Gabriel III ( Israel ) . Walau pada awalnya dirancang untuk militer Norwegia, rudal yang pertama diluncurkan pada tahun 1972 ini dapat memukau banyak negara. Hal yang membuat banyak negara kagum dengan rudal ini bukan karena predikat Mk I sebagai rudal antikapal fire and forget pertama di wilayah Barat. Fire and forget adalah istilah rudal yang bisa mencari sendiri sasarannya tanpa perlu dibimbing awak pengendali.

AGM-119A Penguin anti-ship missile is mounted on the pylon of a Norwegian F-16A during testing of the missile_02

Selain dipakai di dalam negeri, versi Mk I juga digunakan oleh angkatan laut Turki. Pada tahun 1980, Kongsberg meluncurkan versi Mk2, yang terdiri dari dua jenis rudal yaitu: Mod 3 dan Mod 7. Mod 3 dirancang untuk digunakan di kapal patroli, sementara Mod 7 untuk helikopter. Mod 7 bisa dipasang di Bell 412EP, Westland Super Lynx, Sikorsky S-70B, dan SH-60B Seahawk.
Di bawah koordinasi AU AS muncullah Penguin Mk III. Hal yang membedakan dengan versi terdahulu adalah penjejak sasaran yang sudah digital. Lebih dari itu, Mk III hanya bisa dipanggul pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Pengguna rudal ini diantaranya adalah Australian, Brasil, Yunani, Norwegia, Spanyol, Swedia, Turki, Amerika dan Selandia Baru.

Harga rudal ini adalah $500.000, masih terbilang murah dibandingkan

Harpoon ( $1.1 juta ), P800 Oniks  ( $8.5 juta ), Sunburn ( $6 juta ) dan Brahmos ( $10 juta ).

Sisa Kejayaan Indonesia di Masa Soekarno

Posted on

mig-21

  Apakah anda pernah mendengar bahwa pada tahun 1960an indonesia pernah menjadi negara yang terkuat di belahan bumi selatan ? Kabarnya saat itu Indonesia memiliki persenjataan dalam jumlah yang cukup banyak dan canggih, tapi dimanakah sisa sisa kejayaan Indonesia itu. Jika anda mencari jawaban ini di internet pasti jawabannya akan standar, yaitu alutsista Indonesia kekurangan suku cadang dan terpaksa harus digrounded.

  Saya sempat browsing dan mendapatkan kutipan ini di salah satu artikel.

“Keberadaan burung besi ini masuk dalam daftar peralatan perang yang disiapkan dalam rangka kampanye Trikora. Pasalnya Belanda yang masih ngotot bercokol di Papua Barat merasa diatas angin dalam hal persiapan perang terbuka. Hawker Hunter F-6, jet tempur buatan Inggris tahun 1954 yang dimilikinya belum mampu ditandingi oleh AURI kala itu. Walaupun AURI kebanjiran peralatan perang yang tergolong canggih, tapi untuk masalah jet pencegat pesawat lawan masih belum ada. Mig-17 Fresco belum menjadi tandingan Hawker Hunternya Military Luvchvaat yang mampu melesat 1.117 km/jam, daya capai ketinggian 14.325 meter dengan jangkauan 690 kilometer”.

  Sebagai presiden pertama Indonesia, Soekarno tidak mau main main membiarkan sistem pertahanan indonesia berlubang, untuk itu ia terus membangun kekuatan militer baik yang bersifat offensive dan defensive. Untuk dapat memperkuat pertahanan, Indonesia memutuskan untuk membeli 20 pesawat MIG 21 dan 10 MIG 19. Selain kedua pesawat tersebut, Indonesia juga memiliki pesawat DH 115 Vampire, Mig 15, Mig 17 serta beberapa hasil rampasan dari Jepang dan Belanda. Walaupun Indonesia memiliki banyak varian pesawat, tapi menurut para penerbang Indonesia, MIG 21 dan MIG 19 lah yang performanya paling bagus. Pesawat buatan Biro Desain Mikoyan Gurevich ini juga yang membuat pasukan sekutu menjadi ragu untuk menginvasi Indonesia kembali. Pesawat MIG 21 ini diyakini dapat mengejar dan menghancurkan pesawat B 52 Stratofortress milik Amerika dengan mudah. Pesawat dari Skuadron 14 ini memiliki daya dorong sekitar 5.950 kg dari mesin turbojet Tumansky R-11-F 2-300 yang mampu terbang hingga ketinggian 20.000 m dan daya jelajah 1800 km. Pesawat ini dipersenjatan dengan 30 mm canon dan rudal K-13 A ( kode NATO AA2 Atol.

mig 21

  Walaupun akhirnya tidak turun langsung saat Trikora, tetapi keberadaannya membuat perang berakhir dimeja perundingan. Hal itu disebabkan, sebuah pesawat intai AU AS Lockheed U-2 Dragon Lady terbang di atas Madiun. Selama konfrontasi, sering pesawat ini sengaja diterbangkan dari Darwin ke Filipina untuk misi-misi intelijen. Dari ketinggian 70.000 kaki, teridentifikasi oleh pilot beserta kru deretan jet tempur dan pembom. Ditiliknya dengan cermat. Tak salah lagi, sang pilot yakin bahwa pesawat yang dilihatnya adalah pembom Tu-16 Badger dan MiG-21F Fishbed C (sebutan yang diberikan NATO), jet tempur penghadang (intercept) paling ditakuti barat kala itu. Sebelumnya, intelijen AS sudah mengendus kedatangan MiG-21 di Indonesia.
Hasil pengintaian ini bergegas disampaikan Amerika kepada Belanda. “Percuma melawan Indonesia, mereka punya ini.” Begitu kira-kira laporan intel AS kepada pihak Belanda sambil menyodorkan foto hasil jepretan pesawat U-2. Amerika pun sebenarnya masih gamang, mengingat F-4E Phantom yang baru dimodifikasi, masih meragukan untuk diadu berlaga melawan MiG-21.
Selain digunakan dalam kancah Trikora, tercatat pernah berpartisipasi dalam perang Dwikora, dimana Mig-21 melaksanakan tugas pengawalan terhadap pembom raksasa TU-16 Badger yang terbang melintas di perbatasan Serawak. Pernah berpapasan dengan Hawker Hunter dan HS Buccaneer-nya Inggris tapi kedua belah pihak tidak pernah mendahului melakukan tindakan provokasi.
Menurut cerita Marsda (Pur) Jahman dan Marsda (Pur) Rusman, penerbang MiG-21 AURI, ketika konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan kampanye Dwikora, Indonesia menyiagakan pembom Tu-16 dan MiG-21. Karena jangkauannya yang kecil, pesawat harus ditempatkan di Palembang dan Medan. Selama pengabdiannya di AURI, memang tidak ada pengalaman perang udara hebat yang ditinggalkan MiG-21 bagi generasi berikutnya. Selama Dwikorapun, hanya beberapa kali berpapasan dengan pesawat Hawker Hunter atau HS Buccaneer Inggris saat mengawal Tu-16.
Komodor Udara Leo Wattimena sendiri memang tidak menghendaki adanya duel udara di antara kedua belah pihak. “Kecuali ditembak,” perintah Leo. Namun begitu, dua rudal K-13A atau NATO menyebutnya AA-2 Atoll dan kanon 30 mm, tetap disiagakan.

mig_21
Dengan airborne dari Medan, pesawat terbang low level menyusuri selat Malaka. Begitu menjelang perbatasan, tower akan berteriak memberitahu ada pesawat naik dari Butterworth. “Kita langsung pull up, kabur,” jelas Jahman yang menjabat komandan Skadron 14 setelah Rusman. Saat pesawat Inggris tiba di perbatasan, MiG-21 AURI sudah terbang jauh. “Kita (MiG-21) memang tidak pernah perang. Sebagai pencegat, kita hanya menunggu lawan yang tidak pernah jelas. Itulah tugas kita, menunggu dan menunggu,” tutur Jahman yang menerbangkan MiG-21 nomor 2164.
Mig-21 F memperkuat AURI hanya sampai dengan tahun 1967. Selanjutnya pesawat hebat ini di-grounded setelah sebelumnya melakukan farewell flight terbang sebulan penuh di Lanud Kemayoran.”
Berikut adalah kutipan yang diambil dari
“Red Eagles, America’s Secret MiGs” karangan Steve Davies.

“Setelah pemerintahan mantan presiden Soekarno jatuh, yang diikuti hubungan Indonesia dan Uni Soviet yang memburuk dan pemerintahan mantan presiden Soeharto yang condong ke arah Amerika Serikat. Maka Uni Soviet kemudian menarik maintenance support untuk pesawat buatan Uni Soviet yang berada di Indonesia. Sehingga dengan “terpaksa” Indonesia mempensiunkan 30 Mig-17, 10 Mig-19 dan 20 Mig-21 yang dimilikinya diakibatkan kekurangan suku cadang.

maxresdefault
Kemudian Pemerintah Amerika Serikat dengan dalih untuk membantu mengembangkan kekuatan TNI AU maka memperbolehkan Indonesia untuk membeli peralatan militer buatan amerika serikat mulai dari T-33, UH-34D, hingga F5E/F dan OV-10. Tetapi perjanjian tersebut entah bagaimana membuat Amerika Serikat dapat membawa Mig kita ke ke Groom Lake, markas dari Red Eagles yaitu suatu skuadron yang ditugasi untuk mempelajari kelemahan dari pesawat-pesawat buatan uni soviet.
Adapun Mig yang dibawa ke amerika serikat tersebut dari 10 Mig-21F13 dengan tail number 2151,2152,2153,2155,2156,2157,2159,2162,2166,2170; 1 Mig-21U tail number 2172 dan 2 Mig-17F tail number 1184 dan 1187.” Sementara Mig-19 dijual ke Pakistan. “Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,” aku Rusman.
Beberapa dari pesawat Mig tersebut masih bisa dilihat di Musium Satria mandala dan ITB, beberapa kabar dari milis info militer juga menyatakan beberapa Tu-16 kita juga dibawa kesana dan sisanya discrap. Lebih menyedihkan lagi pesawat T-33 yang kita beli dari Amerika tidak dilengkapi oleh persenjataan, walaupun akhirnya bisa diakali oleh ground crew TNI AU sehingga T-33 tersebut bisa dipersenjatai dan dapat digunakan untuk operasi militer.

Analisis Perang di Suriah

Posted on Updated on

serangan-Rusia-301si16klzjd5wim5j99mo

Akhir akhir ini konflik di timur tengah seakan makin melebar dan panas. Pertarungan besar baik antara milisi dengan milisi,  milisi dengan pemerintah ataupun pemerintah dengan pemerintah. Hal yang baru baru ini membuat heboh adalah tentang  bantuan sekutu sekutu Suriah untuk melawan kelompok pemberontak. Di sini yang dimaksud sekutu suriah adalah Russia, Cina, Iran, Hizbullah, Milisi Syiah Suriah, dan pasukan pasukan lain.

Pasukan pendukung suriah ini terlihat sangat berpengaruh dalam membatu suriah melawan pemberontak, terbukti dari serangan udara russia yang sangat tepat mengenai basis pemberontak baik itu FSA, ISIS, JAN dan lain lain. Namun kegiatan russia dalam mengatasi pasukan pemberontak itu sepertinya tidak berjalan mulus. Terbukti dari banyaknya kecaman dari berbagai pihak     seperti beberapa negara NATO, Arab, Amerika, Irak, dan Israel. Tak hanya berupa ancaman saya bahkan sempat terjadi saling kunci di udara. Sebenarnya hal itu cukup wajar mengingat Arab, Amerika dan Israel memiliki kepentingan di Suriah dan mereka juga memiliki teroris didikan seperti FSA, JAN dan mungkin ISIS. Mengapa saya bisa berkata demikian ? Hal ini terbukti saat Russia mengebom basis teroris tersebut mereka seakan kebakaran jenggot dan mengancam Russia dan mengatakan bahwa merekalah yang mendanai teroris itu

Konflik di Suriah sepertinya makin lama akan makin rumit dan lebar mengingat seakan akan di Suriah menjadi medan tempur antara pasukan barat yang dipimpin Amerika dan blok timur yang dipimpin Russia. Lalu bagaimana prediksi jalannya pertempuran tersebut ? Berikut analisa saya :

Pertempuran Udara

Dassault_Rafale

 Di militer abad 21 ini tak bisa lepas dari yang namanya kemampuan perang di udara, siapa yang unggul di udara dialah yang  akan memimpin jalannya perang. Untuk kemungkinan perang di udara, sepertinya akan menjadi ajang uji coba senjata dari  berbagai negara.

Disini kemungkinan negara blok barat akan mengeluarkan sebagian besar armada udara mereka. Negara pemilik pesawat  dalam jumlah besar seperti Arab, Israel, Turki, dan Amerika dan negara NATO akan memainkan peran kunci di sini. Sementara dari pihak timur yang akan memegang peran kunci adalah Russia, Cina, Korut dan Iran.

Mari kita analisa satu persatu. Untuk pihak barat, negara seperti Amerika, Israel, Inggris dan negara Nato lain tentu memiliki jumlah armada yang kuat, modern, dan terlatih sehingga mereka adalah pemimpin blok barat di udara. Sementara untuk Arab dan Turki memang memiliki armada yang cukup besar namun kualitas penerbang mereka masih dipertanyakan.

Untuk pihak timur Russia dan Cina tentu akan menjadi tulang punggung, mereka memiliki pesawat yang modern, banyak ,skill penerbang yang sejajar dengn pihat barat. Sementara Korea Utara juga memiliki pesawat yang sangat banyak namun sebagian besar adalah pesawat tua sepert MIG 21, pesawat seperti ini tentu tidak berpengaruh kuat di pertempuran kecuali mereka mau mengupgrade menjadi sekelas MIG 21 Byson. Namun walaupun tua pesawatnya, pasukan Korea Utara terkadang nekat , bukan tidak mungkin mereka akan memakai pesawat tuanya ini untuk melakukan serangan bunuh diri yang dulu terkenal sangat akurat saat Jepang menyerang Amerika.

Di sini akan terjadi pertempuran antara pesawat F 4, F 5, F 15, F 16, F 18, F 22, F 35, Rafale, Mirage, Typhoon yang akan menghadapi pesawat seperti F 4, F 5, F 14, Mig 21, Mig 15, Mig 17, Mig 29, Mig 35, Su 27, Su 30, Su 35, T 50 ( jika sudah fix ) J 11, JF 17, J10, J 20/ J 35 ( jika cina berhasil mengembangkannya ), Hal Tejas, Saeqh dan lain lain. Dari segi teknologi mungkin barat lebih unggul tapi dari jumlah mungkin timur lebih unggul mengingat sebagian besar armada American Air Force adalah drone.

Pertempuran Laut

A still image taken from footage released by Russia's Defence Ministry on October 7, 2015, shows a Russian warship firing a rocket in the Caspian Sea. The Russian defence ministry said on Wednesday that 26 rockets fired by its warships earlier in the day had struck targets associated with Islamic State and Al-Nusra, the Interfax news agency reported. REUTERS/Ministry of Defence of the Russian Federation/Handout via Reuters TPX IMAGES OF THE DAY ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. NO SALES. NO ARCHIVES

  Untuk pertempuran di laut mungkin tidak akan begitu besar karena notabene perang di Suriah ini adalah perang saling mempertahankan kepentingan. Baru baru ini Cina dikabarkan mengirimkan kapal induknya Liaoning ke Timur Tengah untuk membantu Russia melawan pemberontak Suriah. Selain Cina kabarnya Iran juga mengirimkan Destroyer buatan dalam negeri, Jamaran dan beberapa fregate untuk mengamankan kepentingannya. Russia juga mengirimkan beberapa kapal yang mempu membawa  misil dengan tingkat akurasi tinggi, Calibr yang kabarnya Russia telah menembajan 26 misil ini ke basis pasukan pemberontak yang jaraknya 1500 km dan semuanya tepat sasaran dengan koreksi 3 meter.

  Berbanding terbalik dengan pasukan timur yang semakin menumpuk kekuatannya, blok barat justru mengurangi armada lautnya di Timur Tengah. Kabarnya kapal induk amerika yang ada di wilayah Teluk akan dipindahkan karena masalah keuangan yang tentu ini akan mengurangi kekuatan mereka di sana.

Jikalau ada pertempuran di laut kemungkinan  besar pihak Timur yang akan menang walaupun Russia sedang ada masalah dengan ekonominya. Disini mungkin juga akan menjadi ajang pembuktinan siapa diantara Calibr dan Tomahawk yang lebih hebat dan akurat.

Pertempuran Darat

Al Quds Army

  Di darat pasukan timur akan berada sedikit diatas angin. Pasalnya pasukan timur sudah terbiasa dengan perang gerilya dan mereka sudah kenyang dengan pengalaman menginvasi atau diinvasi. Sementara di pihaka barat agak sedikit bermasalah karena pasukan barat khususnya Amerika kurang tahan terhadap cuaca gurun. Hal ini terbukti saat pasukan Amerika dan beberapa negara NATO yang kewalahan di Afganistan karena tidak tahan terhadap panas.

  Pasukan timur juga memiliki beberapa kelompok yang sudah banyak pengalaman perang seperti pasukan Hizbullah, Al Quds, Milisi Milisi Syiah, dan pasukan Chechnya. Di medan ini juga mungkin akan menjadi ajang pembuktian antara tank Merkava, Abrams, Chalanger yang akan melawan Zulfiqar, T 72, T 90, T 99 dan mungkin jika sudah mampu beroperasi T 14 Armata ( tank ini belum benar benar final ).

Di sini intelijen juga akan sangat berperan, diblok timur ada 3 negara yang memiliki intelijen kuat yaitu Amerika dengan CIA, Israel dengan Mossad, atau Inggris dengan M16 nya. Sementara di Pihak Timur ada Russia dengan FSB, Iran dengan pasukan Al Quds, atau Cina dengan kelompok peretas peretas hebat mereka.

Jika perang terbuka benar benar terjadi di Suriah kemungkinan tidak akan sampai ke perang nuklir namun perang media akan sangat dominan dimana tiap negara akan mengerahkan media masa yang dimilikinya untuk mengubah opini global. Jika dari segi militer mungkin pasukan barat akan lebih unggul tapi dari segi politik pasukan Timur yang menang karena mendukung pemerintah yang sah dan barat mendukung oposisi. Alasan ini bisa dijadikan pihak timur untuk membuat bumerang dan menjatuhkan pihak barat.

Admiral Kuznetsov, Kapal Pencabut Nyawa

Posted on Updated on

Russian aircraft carrier Admiral Kuznetsov

  Admiral Flota Sovetskogo Soyuza Kuznetsov /Адмирал флота Советского Союза Кузнецов demikian nama resmi dari kapal induk Admiral Kuznetsov. Sebenarnya Rusia lebih menyebut kapal ini sebagai kapal jelajah tapi barat menyebutnya dengan kapal induk. Rusia atau dahulu sebelum runtuh adalah Uni Soviet hanya memproduksi dua kapal induk dari kelas ini yaitu Admiral Kuznetsov dan satunya lagi adalah Varyagyang yang belum sempat dioperasikan oleh AL Soviet, tetapi oleh Ukraina langsung RRC ketika Uni Soviet runtuh. Kedua kapal induk tersebut di bangun di galangan kapal Nikolayev South Shipyard yang terletak Nikolayev, yang saat ini menjadi bagian dari negara Ukraina. Kapal bertenaga konvensional atau non nuklir ini di bangun pada tahun 1983 atau mundur satu tahun karena upacara peresmian pembangunan pada tahun 1982, dan selesai secara keseluruhan pada tahun 1985. Mulai bertugas secara penuh di AL Soviet pada tahun 1995. Yang unik dari kapal induk ini adalah penggunaan nama yang sempat berganti hingga 4 kali dari mulai Riga pada awalnya, November 1982 berubah menjadi Leonid Brezhnev, kemudian ketika Agustus 1987 di ganti menjadi Tbilisi, dan yang terakhir padaOktober 4, 1990 menjadi Admiral Flota Sovetskogo Soyuza Kuznetsov. Nama yang sangat panjang.

Admiral_Kuznetsov

Sebagai kapal induk Admiral Kuznetsov mampu membawa sekitar 26 buah Su-33, Mig 29K Fulcrum, 5 buah Su-25 UTG/UBP, 4 buah hlikopter Kamov Ka-27LD32, 18 buah Kamov Ka-27PLO, dan 2 buah Kamov Ka-27S. Kapal besar ini mampu berlayar selama 45 hari nonstop dengan jarak tempuh 7.100 km ini mampu melaju dengan kecepatan maksimum 32 knots.

SHIP_CV_Admiral_Kuznetsov_1996_lg

Rutinitas kapal ini kebanyakan hanya tur ke berbagai lautan dan juga terlibat dalam latihan perang , apalagi Rusia yang kini juga tengah masih terlibat kesulitan keuangan membuat pengoperasian kapal induk ini juga menjadi terbatas.  Admiral Kuznetsov dibina oleh Armada Utara, sejak Januari 1991. Misi selanjutnya Admiral Kuznetsov terlibat program pelatihan peningkatan kemampuan pilot angkatan laut di Pusat Pelatihan Pilot AL Nitka di Ukraina. Rencananya Admiral Kutznetsov akan tetap aktif di AL Russia minimal hingga 2030.

Iran Sebar Radar Tercangihnya Untuk Hadapi Amerika

Posted on

Radar Ghadir

Pemerintah Iran baru baru ini dikabarkan telah menyebarkan radar anti-rudal jarak jauh di berbagai wilayahnya. Tindakan Iran ini sebagai langkah untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika hasil akhir kesepakatan nuklir Iran dengan enam kekuatan dunia berkahir dengan perang antara Amerika dan Iran. Menurut Reuters, Amerika sudah mendesak Iran untuk mengambil keputusan yang sangat sulit mengenai nuklirnya.
Brigadie Jendaral Farzad Esmaili selaku Komandan Korps Revolusi Islam Iran atau yang didingkat IRGC mengatakan bahwa Iran telah menenebar salah satu radar tercanggih di dunia buatannya, yaitu radar Ghadir untuk mendeteksi kemungkinan serangan udara. Jenderal Farzad Esmaili juga mengatakan bahwa Iran juga baru saja menempatkan Radar canggih itu di Kota Ahwaz, Provinsi Khuzestan barat daya tak jauh dari perbatasan dengan Irak.
Pemerintah Iran mengatakan bahwa Radar Ghadir dapat mendeteksi berbagai pesawat dalam jarak 600 km (373 mil) dan rudal balistik dalam jarak 1.100 km. Beberapa waktu lalu Iran juga mengatakan bahwa radar ini dapat mendeteksi semua pesawat siluman amerika termasuk B2, F 117, F 35 bahkan pesawat siluman tercanggih Amerika, F 22. Radar ini juga sempat diberitakan akan mengakhiri era pesawat siluman Amerika. Baca juga Era Pesawat Siluman Amerika Akan Berakhir Ditangan Iran.

F-35

Menurut kantor berita Fars, Komandan Korps Revolusi Islam Iran  mengatakan bahwa radar Ghadir juga mampu mengidentifikasi pesawat tak berawak berukuran mini. ” ” menemukan dan melacak kendaraan udara mikro (MAV) adalah salah satu kelebihan khusus dari sistem radar Ghadir,” katanya. Berikut adalah video dari radar Tercanggih milik Iran itu


Untuk mengamankan wilayah udaranya Iran juga memutuskan untuk membeli sistem pertahanan udara S 300 dari Rusia setelah pejabat Amerika dan Israel mengatakan akan mengunakan aksi militer untuk menumpas Iran. Selain membeli S 300 dari Rusia iran juga mengembangkan sistem pertahanan S 200, Patsir, dan Iran juga dikabarkan berhasil membuat tiruan S 300. Selain itu Iran juga sanggup mengembangkan Patriot milik Amerika pada masa Syah Reza Pahlevi dan Rudal Scud yang banyak di Timur Tengah. Selain sistem pertahanan udara Iran juga terus mengembangkan misil balistik jarak jauhnya. Hal yang paling mengejutkan adalah dalam waktu yang cukup singkat Iran mampu membuat roket dengan jarak jangkan 4000 km. Untuk pertahanan darat Iran mempercayakan pada tank Zulfiqar buatannya dan dilaut Iran mengandalkan Destroyer tercanggih buatannya, Jamaran. Seolah tak mau kalah dari Amerika Iran juga mengembangkan pesawat Saeqh, Azarakh, Borhan dan lain lain untuk melindungi wilayah udaranya.