Iran

Mengenal Lebih Dekat Tank Zulfiqar

Posted on

zolfaghar1-pic4

Tank Zulfiqar atau zolfaqor merupakan tank tempur utama Iran yang mulai diproduksi semenjak 1996. Nama Zulfiqar diambil dari nama pedang khalifah ke 4 umat Islam Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib. Hingga saat ini Iran telah memiliki 3 varian Zulfiqar yaitu Zulfiqar I, II dan III. Tank Zulfiqar ini diawaki oleh 3 kru yaitu komandan, penembak dan pengemudi.

Tank Zulfiqar dikonsep oleh Brigadir Jenderal Mir-Younes Masoumzadeh. Tank Zulfiqar ini menggabungkan kemampuan yang dimiliki oleh tank M48, M60 dan T 72. Prototipe pertama  dari Zulfiqar I dirancang pada tahun 1993 dan diperkenalkan kepada publik tahun 1994. Pada tahun 1997, enam prototipe telah berhasil diciptakan, diuji coba dan dipakai oleh Angkatan Darat Iran. Pada tahun yang sama, Presiden Iran Hashemi Rafsanjani resmi memproduksi secara massal tank Zulfiqar di kompleks industri Kolah Shahid Dooz. Sekitar 600 artileri, 520 tank dan 500 kendaraan lapis baja diproduksi disini.

Beautiful_Zulfiqar-1

Zulfiqar terlihat menggunakan treads dan suspensi dari desain AS , turret rendah dan meriam utama bergaya-Soviet. Terdapat enam “road wheels” di setiap sisi treads dengan “drive sprocket” terpasang di belakang belakang hull dan “track idler” di depan. Lapis bajanya merupakan komposit dan teknologi ERA juga digunakan.

Zulfiqar menggunakan pengisian amunisi otomatis yang menggunakan desain tank T 72 Soviet membuatnya hanya memerlukan tiga awak tidak seperti standar Barat yang membutuhkan empat awak. Meskipun pengisi amunisi otomatis mengurangi kebutuhan awak namun pengisian amunisi bisa dikatakan lebih lambat daripada pengisian amunisi M1 Abrams ( Zulfiqar versi awal ). Untuk senjata menggunakan meriam soothbore 125mm dan senapan mesin koaksial 7,62 mm yang dioperasikan oleh penembak disamping meriam utama ketika dibutuhkan. Disediakan juga senapan anti pesawa 12,7 mm bergaya Soviet diluar. Zulfiqar juga memiliki pelontar granat asap di sepanjang sisi turret.

zolfaghar1-pic1

Tenaga tank disuplai oleg mesin diesel 12-silinder V-46-6 Rusia yang mampu menghasilkan kekuatan 780 tenaga kuda. Mesin ini dilengkapi dengan sistem transmisi otomatis seri SPAT 1200 dengan total 6 gigi transmisi. Mesin ini  dapat membuat tank memiliki kecepatan maksimal 70 km/jam dengan jarak operasional sekitar 450 mil. Tank ini juga mempunyai tangki bahan bakar eksternal untuk meningkatkan jarak operasional dan dipasang di belakang hull.

Analisis Perang di Suriah

Posted on Updated on

serangan-Rusia-301si16klzjd5wim5j99mo

Akhir akhir ini konflik di timur tengah seakan makin melebar dan panas. Pertarungan besar baik antara milisi dengan milisi,  milisi dengan pemerintah ataupun pemerintah dengan pemerintah. Hal yang baru baru ini membuat heboh adalah tentang  bantuan sekutu sekutu Suriah untuk melawan kelompok pemberontak. Di sini yang dimaksud sekutu suriah adalah Russia, Cina, Iran, Hizbullah, Milisi Syiah Suriah, dan pasukan pasukan lain.

Pasukan pendukung suriah ini terlihat sangat berpengaruh dalam membatu suriah melawan pemberontak, terbukti dari serangan udara russia yang sangat tepat mengenai basis pemberontak baik itu FSA, ISIS, JAN dan lain lain. Namun kegiatan russia dalam mengatasi pasukan pemberontak itu sepertinya tidak berjalan mulus. Terbukti dari banyaknya kecaman dari berbagai pihak     seperti beberapa negara NATO, Arab, Amerika, Irak, dan Israel. Tak hanya berupa ancaman saya bahkan sempat terjadi saling kunci di udara. Sebenarnya hal itu cukup wajar mengingat Arab, Amerika dan Israel memiliki kepentingan di Suriah dan mereka juga memiliki teroris didikan seperti FSA, JAN dan mungkin ISIS. Mengapa saya bisa berkata demikian ? Hal ini terbukti saat Russia mengebom basis teroris tersebut mereka seakan kebakaran jenggot dan mengancam Russia dan mengatakan bahwa merekalah yang mendanai teroris itu

Konflik di Suriah sepertinya makin lama akan makin rumit dan lebar mengingat seakan akan di Suriah menjadi medan tempur antara pasukan barat yang dipimpin Amerika dan blok timur yang dipimpin Russia. Lalu bagaimana prediksi jalannya pertempuran tersebut ? Berikut analisa saya :

Pertempuran Udara

Dassault_Rafale

 Di militer abad 21 ini tak bisa lepas dari yang namanya kemampuan perang di udara, siapa yang unggul di udara dialah yang  akan memimpin jalannya perang. Untuk kemungkinan perang di udara, sepertinya akan menjadi ajang uji coba senjata dari  berbagai negara.

Disini kemungkinan negara blok barat akan mengeluarkan sebagian besar armada udara mereka. Negara pemilik pesawat  dalam jumlah besar seperti Arab, Israel, Turki, dan Amerika dan negara NATO akan memainkan peran kunci di sini. Sementara dari pihak timur yang akan memegang peran kunci adalah Russia, Cina, Korut dan Iran.

Mari kita analisa satu persatu. Untuk pihak barat, negara seperti Amerika, Israel, Inggris dan negara Nato lain tentu memiliki jumlah armada yang kuat, modern, dan terlatih sehingga mereka adalah pemimpin blok barat di udara. Sementara untuk Arab dan Turki memang memiliki armada yang cukup besar namun kualitas penerbang mereka masih dipertanyakan.

Untuk pihak timur Russia dan Cina tentu akan menjadi tulang punggung, mereka memiliki pesawat yang modern, banyak ,skill penerbang yang sejajar dengn pihat barat. Sementara Korea Utara juga memiliki pesawat yang sangat banyak namun sebagian besar adalah pesawat tua sepert MIG 21, pesawat seperti ini tentu tidak berpengaruh kuat di pertempuran kecuali mereka mau mengupgrade menjadi sekelas MIG 21 Byson. Namun walaupun tua pesawatnya, pasukan Korea Utara terkadang nekat , bukan tidak mungkin mereka akan memakai pesawat tuanya ini untuk melakukan serangan bunuh diri yang dulu terkenal sangat akurat saat Jepang menyerang Amerika.

Di sini akan terjadi pertempuran antara pesawat F 4, F 5, F 15, F 16, F 18, F 22, F 35, Rafale, Mirage, Typhoon yang akan menghadapi pesawat seperti F 4, F 5, F 14, Mig 21, Mig 15, Mig 17, Mig 29, Mig 35, Su 27, Su 30, Su 35, T 50 ( jika sudah fix ) J 11, JF 17, J10, J 20/ J 35 ( jika cina berhasil mengembangkannya ), Hal Tejas, Saeqh dan lain lain. Dari segi teknologi mungkin barat lebih unggul tapi dari jumlah mungkin timur lebih unggul mengingat sebagian besar armada American Air Force adalah drone.

Pertempuran Laut

A still image taken from footage released by Russia's Defence Ministry on October 7, 2015, shows a Russian warship firing a rocket in the Caspian Sea. The Russian defence ministry said on Wednesday that 26 rockets fired by its warships earlier in the day had struck targets associated with Islamic State and Al-Nusra, the Interfax news agency reported. REUTERS/Ministry of Defence of the Russian Federation/Handout via Reuters TPX IMAGES OF THE DAY ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. NO SALES. NO ARCHIVES

  Untuk pertempuran di laut mungkin tidak akan begitu besar karena notabene perang di Suriah ini adalah perang saling mempertahankan kepentingan. Baru baru ini Cina dikabarkan mengirimkan kapal induknya Liaoning ke Timur Tengah untuk membantu Russia melawan pemberontak Suriah. Selain Cina kabarnya Iran juga mengirimkan Destroyer buatan dalam negeri, Jamaran dan beberapa fregate untuk mengamankan kepentingannya. Russia juga mengirimkan beberapa kapal yang mempu membawa  misil dengan tingkat akurasi tinggi, Calibr yang kabarnya Russia telah menembajan 26 misil ini ke basis pasukan pemberontak yang jaraknya 1500 km dan semuanya tepat sasaran dengan koreksi 3 meter.

  Berbanding terbalik dengan pasukan timur yang semakin menumpuk kekuatannya, blok barat justru mengurangi armada lautnya di Timur Tengah. Kabarnya kapal induk amerika yang ada di wilayah Teluk akan dipindahkan karena masalah keuangan yang tentu ini akan mengurangi kekuatan mereka di sana.

Jikalau ada pertempuran di laut kemungkinan  besar pihak Timur yang akan menang walaupun Russia sedang ada masalah dengan ekonominya. Disini mungkin juga akan menjadi ajang pembuktinan siapa diantara Calibr dan Tomahawk yang lebih hebat dan akurat.

Pertempuran Darat

Al Quds Army

  Di darat pasukan timur akan berada sedikit diatas angin. Pasalnya pasukan timur sudah terbiasa dengan perang gerilya dan mereka sudah kenyang dengan pengalaman menginvasi atau diinvasi. Sementara di pihaka barat agak sedikit bermasalah karena pasukan barat khususnya Amerika kurang tahan terhadap cuaca gurun. Hal ini terbukti saat pasukan Amerika dan beberapa negara NATO yang kewalahan di Afganistan karena tidak tahan terhadap panas.

  Pasukan timur juga memiliki beberapa kelompok yang sudah banyak pengalaman perang seperti pasukan Hizbullah, Al Quds, Milisi Milisi Syiah, dan pasukan Chechnya. Di medan ini juga mungkin akan menjadi ajang pembuktian antara tank Merkava, Abrams, Chalanger yang akan melawan Zulfiqar, T 72, T 90, T 99 dan mungkin jika sudah mampu beroperasi T 14 Armata ( tank ini belum benar benar final ).

Di sini intelijen juga akan sangat berperan, diblok timur ada 3 negara yang memiliki intelijen kuat yaitu Amerika dengan CIA, Israel dengan Mossad, atau Inggris dengan M16 nya. Sementara di Pihak Timur ada Russia dengan FSB, Iran dengan pasukan Al Quds, atau Cina dengan kelompok peretas peretas hebat mereka.

Jika perang terbuka benar benar terjadi di Suriah kemungkinan tidak akan sampai ke perang nuklir namun perang media akan sangat dominan dimana tiap negara akan mengerahkan media masa yang dimilikinya untuk mengubah opini global. Jika dari segi militer mungkin pasukan barat akan lebih unggul tapi dari segi politik pasukan Timur yang menang karena mendukung pemerintah yang sah dan barat mendukung oposisi. Alasan ini bisa dijadikan pihak timur untuk membuat bumerang dan menjatuhkan pihak barat.

Iran, Bangsa Pemberani berhati lembut

Posted on

Masjid-Jamkaran-Iran9315

Hari raya Nauruz, ya ini adalah hari raya yang sangat penting bagi negara Iran. Naurus atau tahun baru Nauruz jatuh setiap tanggal 1 Farfardin. Nauruz sebenarnya tradisi bangsa Persia lebih dari 2.500 tahun lalu. Pada hari-hari Nauruz, masyarakat Iran saling berkunjung ke rumah sanak keluarganya, layaknya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia. Tradisi ini juga berlangsung di Afghanistan, Tajikistan, Azerbaijan, Turkmenistan, hingga Pakistan.

Pada hari Nauruz biasanya aktivitas sekolah, perkantoran dan perkuliahan di Iran diliburkan selama beberapa hari dengan tujuan agar masyarakatnya dapat saling bersilaturahmi dengan keluarganya. Puncak dari liburan Nauruz biasanya pada tanggal 13 Farfadin. Pada tanggal tersebut biasanya masyarakat Iran akan merayakannya dengan keluar rumah dan mencari tempat terbuka untuk makan bersama dan berkumpul dengan anggota keluarga.
Selain karena awal tahun baru Iran, disebut Nauruz juga karena awal masuknya musim semi. Sebab, berbeda dengan kita, Iran memiliki empat musim yang semua musimnya punya suasana tersendiri. Seperti musim dingin, waktu malam lebih panjang daripada siang hari begitupula sebaliknya.
Di sisi lain, kemajuan teknologi Iran sangat mengejutkan negera-negara musuhnya seperti Amerika, Israel, maupun Inggris. Semua ini diraih Iran setelah Revolusi Iran tahun 1979 di bawah pimpinan Ayatullah Imam Khomeini yang kini dijabat Ayatullah Ali Khamenei. Selain karena Revolusi kemajuan Iran juga akibat dari embargo Amerika dan sekutunya sehingga iran dapat menjadi negara yang lebih mandiri.
Masalah teknologi Iran, termasuk teknologi nuklirnya dalam beberapa tahun terakhir ini memang sangat populer di banyak media di dunia ini. Terlepas dari benar atau hanya propaganda media-media dunia, berita itu juga dijadikan referensi oleh sejumlah media massa Indonesia. Saking gencarnya berita tersebut, sedikit sekali atau malah bisa dikatakan tidak ada media kita yang menyorot tentang perkembangan budaya, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan seperti ilmu logika, filsafat, fikih, Alquran hingga pengetahuan pemikiran lainnya di Iran.
Terlepas dari perbedaan negeri para mullah dengan kita, satu persamaan yang patut dibanggakan adalah kita dan Iran sama-sama muslim. Bedanya, mayoritas masyarakat Iran dari total penduduknya yang berjumlah sekitar 75 juta jiwa adalah bermazhab Imamiah Istna Asyar (12 imam) atau biasa dikenal dengan Mazhab Syiah atau Mazhab Ja’fari. Selain Syiah, di negeri Salman Alfarisi ini juga cukup banyak penganut Mazhab Sunni. Selain islam di negeri Persia ini juga terdapat agama Nasrani dan Yahudi yang semuanya hidup berdampingan dengan damai.
Di Indonesia ada Maulid Nabi Mohammad SAW di Iran juga ada dan justrutidak hanya satu peringatan saja namun dua, yaitu kelahiran dan wafatnya Nabi Mohammad SAW. Di hari kelahiran dan wafatnya Rasullulah Iran selalu menjadikannya libur nasional selama beberapa hari yang selanjutnya akan digunakan untuk menggelar majelis di masjid masjid Iran, baik majelis dalam rangka maulid maupun majelis duka karena wafatnya Rasulullah.
Satu hal yang sangat berbeda dengan Indonesia , rakyat Iran dalam majelis duka sangat mudah menangis hingga bersedu-sedu ketika diceritakan tentang perjuangan dan kesedihan Rasulullah saat berdakwah hingga wafatnya. Mereka juga sangat mudah menangis ketika diceritakan syahidnya Fatimah , putri Rasulullah. Apalagi sejarah mencatat bahwa Imam Syiah yaitu Imam Ali, Hasan, Husein, dan seterusnya, kesemuanya syahid dengan cara diracun atau dibunuh. Tak hanya di Majelis duka, rakyat Iran asli juga kebanyakan akan menangis bila ada yang menceritakan sejarah perjuangan Rasullulah dan sahabatnya, jadi anda jangan coba coba membuat orang Iran menangis 😀 .
Salah satu tragedi hal yang paling ditangisi warga Iran selain wafatnya rasululah adalah pembantaian cucu kesayangan rasululah, Husein di Karbala, Irak, atau biasa dikenal dengan Asyura, oleh ribuan tentara bani Umayyah di bawah kekhalifahan Yazid bin Muawwiyah.  Untuk peringatan ini, masyarakat Iran di mana-mana menggelar majelis duka hingga pawai besar-besaran. Dalam majelis itu juga mereka mendoakan orang yang syahid. Sangat berbeda dengan apa yang ada di Indonesia, kita di Indonesia justru hanya terbiasa memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad saw, dengan menghadirkan penceramah yang “wajib” bisa melucu. Seolah, tak lucu ya tidak laku. Seolah di Indonesia tidak tau bagaimana kerasnya perjuangan rasululah dalam menegakan agama islam. Sebagai umat islam Indonesia, kita juga harus meneladani bagaimana lembutnya hati masyarakat Iran dan bagaimana kemandirian serta perjuangan Iran demi memanjukan bangsanya.

Kemajuan teknologi Iran

Posted on

Iran, negara Persia ini tentu merupakan negara yang sangat disegani. Banyak tokoh Indonesia yang mengakui kehebatan Iran, salah satunya adalah Dahlan Iskan. Berikut adalah artikel pujian dari Dahlan Iskan ke Iran yang saya ambil dari website PLN.  Artikel ini berjudul ” Ke Iran Setelah 20 Tahun Diembrgo “. Ini dia artikelnya :

jarak iran dengan israel  Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.

Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, belakangan redup kembali.

Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.

Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama ini.

Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?

Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.

Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.

Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.

Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin  ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke 80.000 buah!

Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari Siemen.

Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.

Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.

Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.

Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.

Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.

Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.

“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.

“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.

Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.

Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.

Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.

Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.

Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.

Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.

Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.

Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.

Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.

Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.

Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.

Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada  keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.

Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.

Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.

Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!

Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?

Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.

Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.

Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.

Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan teknologi  drilling dan pengolahan.

Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran.  Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.

Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,” tambahnya.

Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.

Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.

Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian  memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam lima tahun ke depan.

Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.

Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.

Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.

Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.

Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia.

Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.

AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.

Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.

Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.

Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri”.

Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran diisolasi?

 

Dahlan Iskan

CEO PLN

Sekian artikel yang saya ambil dari web PLN.

Iran Sebar Radar Tercangihnya Untuk Hadapi Amerika

Posted on

Radar Ghadir

Pemerintah Iran baru baru ini dikabarkan telah menyebarkan radar anti-rudal jarak jauh di berbagai wilayahnya. Tindakan Iran ini sebagai langkah untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika hasil akhir kesepakatan nuklir Iran dengan enam kekuatan dunia berkahir dengan perang antara Amerika dan Iran. Menurut Reuters, Amerika sudah mendesak Iran untuk mengambil keputusan yang sangat sulit mengenai nuklirnya.
Brigadie Jendaral Farzad Esmaili selaku Komandan Korps Revolusi Islam Iran atau yang didingkat IRGC mengatakan bahwa Iran telah menenebar salah satu radar tercanggih di dunia buatannya, yaitu radar Ghadir untuk mendeteksi kemungkinan serangan udara. Jenderal Farzad Esmaili juga mengatakan bahwa Iran juga baru saja menempatkan Radar canggih itu di Kota Ahwaz, Provinsi Khuzestan barat daya tak jauh dari perbatasan dengan Irak.
Pemerintah Iran mengatakan bahwa Radar Ghadir dapat mendeteksi berbagai pesawat dalam jarak 600 km (373 mil) dan rudal balistik dalam jarak 1.100 km. Beberapa waktu lalu Iran juga mengatakan bahwa radar ini dapat mendeteksi semua pesawat siluman amerika termasuk B2, F 117, F 35 bahkan pesawat siluman tercanggih Amerika, F 22. Radar ini juga sempat diberitakan akan mengakhiri era pesawat siluman Amerika. Baca juga Era Pesawat Siluman Amerika Akan Berakhir Ditangan Iran.

F-35

Menurut kantor berita Fars, Komandan Korps Revolusi Islam Iran  mengatakan bahwa radar Ghadir juga mampu mengidentifikasi pesawat tak berawak berukuran mini. ” ” menemukan dan melacak kendaraan udara mikro (MAV) adalah salah satu kelebihan khusus dari sistem radar Ghadir,” katanya. Berikut adalah video dari radar Tercanggih milik Iran itu


Untuk mengamankan wilayah udaranya Iran juga memutuskan untuk membeli sistem pertahanan udara S 300 dari Rusia setelah pejabat Amerika dan Israel mengatakan akan mengunakan aksi militer untuk menumpas Iran. Selain membeli S 300 dari Rusia iran juga mengembangkan sistem pertahanan S 200, Patsir, dan Iran juga dikabarkan berhasil membuat tiruan S 300. Selain itu Iran juga sanggup mengembangkan Patriot milik Amerika pada masa Syah Reza Pahlevi dan Rudal Scud yang banyak di Timur Tengah. Selain sistem pertahanan udara Iran juga terus mengembangkan misil balistik jarak jauhnya. Hal yang paling mengejutkan adalah dalam waktu yang cukup singkat Iran mampu membuat roket dengan jarak jangkan 4000 km. Untuk pertahanan darat Iran mempercayakan pada tank Zulfiqar buatannya dan dilaut Iran mengandalkan Destroyer tercanggih buatannya, Jamaran. Seolah tak mau kalah dari Amerika Iran juga mengembangkan pesawat Saeqh, Azarakh, Borhan dan lain lain untuk melindungi wilayah udaranya.

Jamaran, Destroyer Canggih Buatan Iran

Posted on

Jamaran

Teheran beberapa waktu yang lalu dikabarkan telah meluncurkan kapal perusak kedua buatan dalam negeri di Laut Kaspia. Itu merupakan pengerahan pertama kekuatan kapal perang dari negara di kawasan Teluk. Peluncuran dilakukan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Stasiun televisi Press TV milik pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal perusak Jamaran-2 itu dirancang dan dibuat para ahli di Kementerian Pertahanan Iran dan dilengkapi dengan navigasi canggih serta sistem pertahanan canggih. Peluncuran destroyer yang dilengkapi peluru kendali itu berlangsung di kota pelabuhan Bandar-e Anzali, Provinsi Gilan, sekitar 250 kilometer barat laut Teheran.

Ahmadinejad memuji pembangunan destroyer itu sebagai prestasi besar bagi Republik Islam Iran. Dia mengatakan bahwa kapal perang itu diluncurkan untuk mendukung perdamaian dan persahabatan di kawasan.“Kapal ini berada di sini (Laut Kaspia) untuk menghadapi siapapun yang berupaya membahayakan keamanan negara-negara sekitarnya,” ujarnya. “Peluncurannya akan menjadi langkah maju menuju terciptanya keamanan di laut ini,” lanjutnya.

Setelah menjalani uji terakhir, Jamaran-2 akan bergabung dengan armada laut Iran di Laut Kaspia dalam enam bulan ke depan. Kapal yang berbobot 1.420 ton itu dilengkapi landasan pendaratan helikopter dan mesin 20 ribu tenaga kuda (hp). Memiliki panjang 94 meter, kapal itu mampu melaju dengan kecepatan 30 knot (sekitar 56 kilometer perjam). Jamaran-2 juga dilengkapi rudal permukaan ke permukaan maupun permukaaan ke udara, senjata anti-pesawat, serta radar dan terminal komunikasi yang canggih.

Asian News International (ANI) melaporkan bahwa itu merupakan kapal perusak kedua buatan Iran. Teheran telah meluncurkan Jamaran-1 pada 2010 di Teluk Persia. Kapal ini bisa mengangkut 120-140 awak serta dilengkapi radar modern maupun peralatan perang elektronik canggih lainnya, rudal anti-kapal dan rudal permukaan ke udara. Destroyer Jamaran ini bahkan dikabarkan dapat merontokan F 18, F 16 dan drone dengan peralatan perang elektroniknya.

Peluncuran Destroyer baru Iran ini jelas memicu kemarahan negara negara barat terutama Amerika dan Israel. Kemarahan Barat ini yang membuat banyak negara barat berusaha mencuri teknologi dari Jamaran. Seorang komandan senior Angkatan Laut Iran mengatakan bahwa saat ini intelijen sejumlah negara terus berusaha mencari informasi tentangkemampuan kapal destroyer Iran, Jamaran. “Saya melihat bagaimana unit angkatan laut trans-regional di perairan bebas, misalnya Laut Merah, dan daerah lainnya mencoba mendekat ke Jamaran dan mengambil gambar dan footages dan ingin tahu bagaimana kemampuan kapal bekerja,” kata Kapten Razzaqi Komandan kapal perang logistik Bandar Abbas  yang ikut dalam misi Jamaran dalam 3 bulan kedepan.

apten Razzaqi  kepada Far News Agency  Selasa 17 Maret 2015 mengatakan kemampuan tinggi dan kemampuan spesialis dan ahli telah membangun kapal iran ini berbeda dengan kapal lain, “Saat ini, (yang berbeda) peluncur rudal kapal dan kapal selam yang sedang dibangun dan mereka telah berubah Angkatan Laut Iran menjadi kekuatan regional yang besar. ”

Untuk video dari Jamaran dapat anda lihat dibawah ini.

Iran atau Arab Saudi yang membantu Amerika dan Israel ?

Posted on

COBRA BMT-2 APC

Saat Revolusi Iran tahun 1979, AS dan Arab Saudi serta negara2 Arab lainnya mendukung Iraq (Saddam Hussein) menyerang Iran. Terjadi perang selama 8 tahun (1980 1988) yg menewaskan 1 juta orang (500 ribu Iran dan 500 ribu Iraq) dan biaya perang Rp 10 ribu trilyun.

Sebelumnya, Iran sebagaimana Arab Saudi merupakan sekutu erat AS di zaman Syah Iran, Reza Pahlevi. Namun sejak Reza terguling, Kedubes AS diserbu dan disandera mahasiswa Iran selama 444 hari untuk kemudian ditutup hingga saat ini.

Sayang negara2 Arab justru menagih hutang kepada Irak atas bantuan menyerang Iran tsb, sehingga Saddam menyerang Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Saddam itu Sunni dan didukung pemerintahan yg Sunni meski 60% warga Iraq itu Syi’ah.

Negara2 Arab tak mampu melawan Iraq. Mereka meminta AS dan menyediakan pangkalan militer bagi AS guna menyerang Iraq dan membunuh Saddam. Akibatnya Saddam dan Pemerintah Sunninya jatuh. DENGAN DUKUNGAN AS Yang naik, justru pemerintah dari kalangan Syi’ah.

Jadi salah jika ada yang mengatakan Iran yg membantu AS menyerang Iraq.

Justru Arab Saudi dan negara2 Arablah yg menyediakan pangkalan militer bagi AS guna menyerang Iraq.

Selain menyediakan Pangkalan Militer bagi AS, ternyata Arab Saudi juga menyumbang teroris ke Iraq. 53 Pembom Bunuh diri yang menargetkan peziarah Syi’ah ternyata berasal dari Arab Saudi. Apalagi ternyata banyak lembaga-lembaga dan Media Massa “Islam” yang didanai dengan Petro Dollar Arab Saudi bukan sekedar mengulas perbedaan Sunni-Syi’ah, tapi juga mengobarkan kebencian sehingga mengadu-domba Sunni dengan Syi’ah.

Rezim Arab Saudi dikenal luas dengan reputasinya sebagai sekutu utama Amerika dan Barat di kawasan Jazirah Arab. Arab Saudi bersama Amerika memerangi mujahidin Anshar Syariah di Yaman Selatan. Agresi militer AS dan NATO ke Irak pada Perang Teluk 1990 dan perang 2003 berangkat dari pangkalan-pangkalan militer AS dan Inggris di Arab Saudi dan Kuwait.

IRAQ SELANJUTNYA Dengan naiknya PM Nuri Al Maliki dari Syi’ah dan sebetulnya Presiden Iraq itu dari Wahabi, mungkin benar kalau Iran/Syi’ah kemudian diuntungkan. Tapi aneh jika Media Massa Islam yang didanai Petro Dollar Arab Saudi sama sekali tidak menyinggung dosa Arab  yang menyediakan pangkalan militer AS untuk menyerang  Iraq hingga sekarang. Adilkah itu? Jujurkah itu?

Munculnya Syi’ah jadi PM Iraq belum tentu dia taat pada Imam Syi’ah atau sejalan dgn Pemerintah Iran. Buktinya mantan Syah Iran Reza Pahlevi, puteranya, dan para Pendukung Syah Iran membangkang thd Imam Syi’ah dan Iran serta bersehabat dgn AS. Ini sama halnya dgn Saddam Hussein yang Sunni, tapi kemudian justru menentang Arab Saudi dan AS. Kalau di Indonesia, ada Islam KTP yang justru menentang Islam. Jadi tak bisa disebut naiknya seorang Syi’ah jadi PM seperti Nuri sebagai selingkuh antara AS dgn Iran. Apalagi sebenarnya yang jadi Presiden adalah seorang Wahabi meski kemudian tersingkir karena melakukan pemboman thd kaum Syi’ah yang sebetulnya mayoritas di Iraq.

Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Meski Saddam Hussein adalah Sunni, namun 60% penduduk Iraq adalah Syi’ah. Ini berlawanan dgn Suriah di mana Syi’ah cuma 15% dan Sunni 85%, tapi yang jadi presiden adalah orang Syi’ah. Cuma aneh juga kalau ada Media Wahabi seperti Arrahmah.com dgn data tidak jelas menyebut Sunni mayoritas di Iraq dgn jumlah 60% padahal berbagai fakta di media massa termasuk Sensus di zaman Saddam menyebut Syi’ah 60% di sana. Apalagi Iraq itu kan memang pusatnya Syi’ah meski sekarang bergeser ke Iran. Lihat:

Britannica: Syi’ah 60%, Sunni 40% Sumber: CIA World Fact Book: Syi’ah 60%-65%, Sunni 32%-37% dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Iraq

Kalau digoogle lebih banyak lagi, maka kita akan tahu kalau Syi’ah memang mayoritas di Iraq. Beritanya dari sumber yg kredibel itu amat Mutawatir. Jadi aneh kalau ada Media Wahabi macam Arrahmah.com bilang Sunni adalah mayoritas di Iraq. Itu bohong besar. Kalau Suriah, itu benar. Jika hal seperti statistik yang pasti dan jelas saja sudah bohong, bagaimana dengan berita2 lainnya?

Kalau ada 2 pihak yang berperang, sebaiknya didamaikan. Bukan malah dikompori.

Agama Islam tidak pernah mengajarkan ummatnya jadi Sektarian/Ashobiyyah. Islam itu adalah Rahmatan lil ‘Alamiin.

Apalagi sampai membunuh orang yang masih bersyahadah tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah serta masih sholat.

Ummat Islam itu berjihad/berperang demi ISLAM! Bukan demi Sunni atau pun demi Syi’ah:

Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.”

(HR. Ahmad)

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah

(HR Abu Dawud).

Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.

INI ADALAH DAFTAR PANGKALAN UDARA AMERIKA SERIKAT di negara-negara Islam. Dari situ kita tahu ternyata Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Turki menyediakan Pangkalan Militer bagi AS. Ada pun Afghanistan dan Iraq baru “memberi” pangkalan militer setelah diserang dan dikuasai AS. Ada 5 Pangkalan Udara Amerika Serikat di Arab Saudi seperti:

Eskan Village Air Base, Saudi Arabia

King Abdul Aziz Air Base, Dhahran, Saudi Arabia

King Fahd Air Base, Taif, Saudi Arabia

King Khalid Air Base, Khamis Mushayt, Saudi Arabia

Riyadh Air Base, Riyadh, Saudi Arabia

Sebelumya Media Massa Wahabi yang didanai Petro Dollar Arab Saudi (Sekutu AS dan Israel) juga memberitakan bahwa roket Hamas bukan bantuan dari Iran. Padahal roket Fajr 5 yang ditembakkan Hamas adalah buatan Iran. Iran juga memberi pembuat rudal ke Hamas sehingga Hamas dapat membuatnya sendiri. Itulah sebabnya Hamas selain berterimakasih kepada Iran. tanyakan pada pimpinan tertinggi Hamas tentang ini

Ada lagi yang mempertanyakan “Adakah 1 Peluru Iran yang jatuh ke Israel?” Secara langsung mungkin tidak ada karena jarak Israel-Iran yang cukup jauh (1500 km). Lihat peta:

jarak iran dengan israel

di peta terlihat jarak iran dengan israel adalah 1000 km lebih dan mengapa Arab dan Mesir tidak menyerang israel padahal mereka memiliki perbatasan langsung dengan Israel.

Tapi dengan perang Gaza selama 8 hari kemarin kita tahu roket Fajr 5 Iran mendarat di Israel. Sebelumnya juga roket-roket Iran dan senjata lain dipakai oleh pejuang Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Tak heran jika pimpinan Hamas seperti Khaled Meshaal dan Ismail Haniyeh sering pergi ke Teheran untuk mendapat dukungan dana dan senjata dari Iran.

Saat pemimpin Iran mengecam AS dan Israel dengan pedas, banyak yang menganggapnya cuma pura-pura. Sekarang kita tanya, “Beranikah Raja Arab Saudi mengecam AS dan Israel?” SBY saja tidak berani. Jadi dengan mengecam pun butuh keberanian yang tinggi.

Kaum Wahabi sering menganggap Iran cuma pura-pura melawan AS. Tidak akan terjadi perang. Padahal jika kita lihat, sudah banyak konflik yang terjadi:

  1. Penyerbuan Kedubes AS dan penyanderaan staf Kedubes AS selama 444 hari pasca Revolusi Iran yang menggulingkan sekutu AS, Syah Iran Reza Pahlevi. Mana ada negara di dunia ini yang berani menyerang Kedubes AS? Di Indonesia, demo di depan Kedubes AS saja bisa ditembak mati oleh Polisi.

AS pernah mencoba membebaskan sandera tsb dalam Operasi Eagle Claw. Namun gagal karena badai gurun. Pesawat dan Helikopter militer AS saling bertabrakan dan menewaskan sebagian pilot dan penumpangnya. Sisanya ditahan Iran.

Hingga saat ini, tidak ada Kedubes AS di Iran. Bandingkan dengan Kedubes2 AS yang hadir di Arab Saudi, Mesir, dan Turki. Iran jelas lebih berani dalam menghadapi kafir harbi AS yang membunuh ummat Islam di Iraq, Afghanistan, dan menghalangi berdirinya syariat Islam di seluruh dunia

  1. U.S.S Vincennes menembak jatuh pesawat Airbus A300 Iran itu segera setelah lepas landas dari kota Bandar Abbas, Iran, tanggal 3 Juli tahun 1988. 290 orang Iran tewas! Washington mengatakan Vincennes keliru mengira pesawat penumpang itu sebuah pesawat tempur jet Iran yang bermusuhan.
  2. AS dan Israel pada tahun 2010 dan 2011 membunuh ahli nuklir Iran untuk menghambat program nuklir Iran. AS dan Israel menurut media massa Barat sendiri melakukan sabotase yang mengakibatkan ledakan hebat di markas Garda Revolusi Iran pada 12 November lalu yang meratakan sebagian besar bangunannya dan menewaskan 17 orang, termasuk pendiri program misil balistik Iran, Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam.
  3. Terakhir Iran membajak pesawat mata-mata AS RQ-170 Sentinel yang menyusup sejauh 250 km ke Iran dari Afghanistan. Presiden AS, Barack Obama, jadi bahan tertawaan publik saat meminta Iran untuk mengembalikan pesawat mata-matanya. Ini ibarat maling yang membawa tangga, ketika tangganya ketinggalan, dia meminta tangganya dikembalikan oleh orang yang dia curi.
  4. Saat Perang Iran-Iraq (1980-1988) sebetulnya AS juga membantu Iraq dengan mengirim kapal2 induk dan kapal perangnya ke Teluk Persia. Namun Iran menggelontorkan ranjau-ranjau laut sehingga beberapa kapal perang AS USS Samuel B. Roberts (FFG-58) bolong terkena ranjau Iran. Silahkan baca:

USS Samuel B. Roberts (FFG-58) is one of the final ships in the United States Navy‘s Oliver Hazard Perry class of guided missile frigates (FFG). The ship was severely damaged by an Iranian mine in 1988, leading U.S. forces to respond with Operation Praying Mantis.

http://en.wikipedia.org/wiki/USS_Samuel_B._Roberts_(FFG-58)

AS membalasnya dengan Operasi Praying Mantice yang menghancurkan 5 kapal perang dan speed boat Iran serta instalasi minyak Iran. Perang Laut yang dilakukan AS terhadap Iran adalah Perang Laut yang terbesar setelah Perang Dunia 2:

Operation Praying Mantis was an attack on April 18, 1988, by U.S. naval forces within Iranian territorial waters in retaliation for the Iranianmining of the Persian Gulf during the Iran–Iraq war and the subsequent damage to an American warship.

This battle was the largest of the five major U.S. surface engagements since the Second World War

http://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Praying_Mantis

Saat kapal2 perangnya banyak karam ditembak AS, Iran segera menggunakan speed boat2 kecil yang cepat sehingga cukup merepotkan AS. Jadi keliru jika menganggap tak pernah ada konflik antara AS dan Iran.

Kalau pun AS tidak menyerang Iran secara besar-besaran, ini karena Iran dengan penduduk 80 juta jiwa dan mampu membuat senjata sendiri (pesawat tempur pun bisa) jauh lebih kuat daripada Iraq yang penduduknya cuma 25 juta jiwa. Imam Syi’ah Ali Khamenei yang ada di Iran pun diperkirakan bisa membangkitkan 160 juta kaum Syi’ah di Timur Tengah guna melawan AS.

Oleh sebab itulah dengan menggunakan Arab Saudi dan Wahabi sebagai sekutunya, AS mencoba mengadu-domba Sunni dengan Syi’ah sehingga saling bunuh dan lemah.

Syi’ah memang beda dengan Sunni. Namun hendaknya perbedaan/penyimpangan itu disikapi dengan dakwah yang maw-izhonul hasanah dan bil hikmah. Dengan baik dan bijak. Bukan dengan mengobarkan kebencian sehingga jadi saling bunuh. Jika itu terjadi, kaum Yahudi dan Nasrani yang dimurkai Allah dan sesat justru akan tertawa terbahak-bahak.

Nabi tidak main bunuh terhadap orang-orang kafir yang menolak dakwahnya. Contohnya saat penduduk Thaif menolak dakwah Nabi bahkan melempar beliau dengan batu, saat Malaikat menawarkan bantuan untuk menghancurkan penduduk Thaif, Nabi menolak. Siapa tahu nanti keturunan mereka masuk Islam. Begitu kata Nabi.

Jadi tindakan Arab Saudi dan Wahabi yang mengadu- domba dan mengirim ratusan pembom bunuh diri guna membunuh peziarah Syi’ah dan masjid2 Syi’ah di Iraq berlawanan dengan Islam. Itu memancing tindakan balas dendam dari kaum Syi’ah. Itu adalah tindakan adu-domba yang mengakibatkan Sunni dan Syi’ah jadi saling bunuh.

Di Libya sesama Sunni, 50 ribu Muslim tewas saling bunuh dalam perang Saudara. Hizbut Tahrir yakin betul bahwa Khilafah akan berdiri usai Khaddafi jatuh. Ternyata “Khilafah”nya cuma boneka AS saja… Di Iraq hampir 1,5 juta Muslim (Sunni dan Syi’ah) tewas karena saling bunuh. Di Suriah 60 ribu Muslim (Sunni dan Syi’ah) juga tewas. Sementara tentara AS dan Israel yang menyerang dan membantai ummat Islam di Palestina, Iraq, dan Afghanistan justru aman. Apa itu tidak ironis? Apakah mereka tidak berpikir akan hal ini?

Membunuh sesama Muslim dan membiarkan orang-orang kafir bukanlah ciri orang yang beriman:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

\Wahabi menuduh Iran cuma taqiyyah atau pura2 perang melawan AS dan Israel. Padahal sebetulnya Iran berteman dengan AS dan Israel. Begitu kata Wahabi. Betulkah itu?

Allah melarang kita untuk melakukan buruk sangka/su’u zhon karena sebagian zhon itu dosa (Al Hujuraat ayat 12). Nabi juga melarang kita “Membaca Hati” manusia karena kita tidak mampu. Kita hanya bisa menilai yang zahir. Yaitu lisan/ucapan dan perbuatan. Perhatikan baik-baik hadits dibawah:

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a.: Rasulullah SAW. pernah mengirimkan kami dalam suatu pasukan (sariyyah); lalu pada pagi hari kami sampai ke Huruqat di suku Juhainah, di sana saya menjumpai seorang laki-laki, dia berkata, “La ilaha illallah – tiada tuhan selain Allah,” tetapi saya tetap menikamnya (dengan tombak), lalu saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Setelah sampai di Madinah, saya memberitahukan hal tersebut kepada Nabi SAW., lalu beliau bersabda, “Dia mengatakan, ‘La ilaha illallah’, kemudian kamu membunuhnya?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh dia mengatakannya hanya kerana takut pada senjata.” Beliau bersabda, “Tidakkah kamu belah dadanya, lalu kamu keluarkan hatinya supaya kamu mengetahui, apakah hatinya itu mengucapkan kalimat itu atau tidak?” Demikianlah, beliau berulang-ulang mengucapkan hal itu kepada saya sehingga saya menginginkan seandainya saya masuk Islam pada hari itu saja. Sa’ad berkata, “Demi Allah, saya tidak membunuh seorang Muslim sehingga dibunuhnya oleh Dzul Buthain, maksudnya Usamah.” Lalu ada orang laki-laki berkata, “Bukankah Allah SWT. telah berfirman, Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS Al-Anfal (8): 39).” Lalu Sa’ad menjawabnya, “Kami sudah memerangi mereka supaya jangan ada fitnah, sedangkan kamu bersama kawan-kawanmu menginginkan berperang supaya ada fitnah.” (1: 67 – 68 – Sahih Muslim)

Pemimpin Iran secara lisan mengecam AS dan Israel. Sementara raja Arab Saudi tidak berani melakukan itu. Tidak ada Kedubes AS di Iran. Sementara di Arab Saudi selain ada Kedubes AS, ada juga 5 Pangkalan Udara Militer AS guna menyerbu negara-negara Islam di sekitar situ seperti Iraq dan Afghanistan. Iran membantu Hizbullah dan Hamas dengan dana dan senjata padahal AS mencap kedua organisasi tsb sebegai teroris. Sementara Arab Saudi sama sekali tidak membantu. Yang dibantu cuma Fatah yang sekuler dan agak bersahabat dengan Israel. Saat perang Iran-Iraq dan Operasi Praying Mantis, Iran benar-benar berperang melawan AS. Nah sejak tahun 1980 hingga sekarang, adakah Arab Saudi berperang melawan AS? Ada tidak?

Iran secara zahir dengan lisan dan perbuatan sudah membuktikan bahwa mereka menentang AS dan Israel.

Sementara Arab Saudi dan Wahabi yang mengaku sebagai Penegak Tauhid, Pembela Sunnah justru secara perbuatan bersahabat dengan AS dan Israel. Itulah yang namanya taqiyyah. Ucapan beda dengan Perbuatan:

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani)…” [Al Maa-idah 52]

Kita baca lagi ayat lainnya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau kita kritis dan berpikir, niscaya kita tahu justru Arab Saudi dan Wahabi itu perbuatannya menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits: Bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani (AS DAN ISRAEL)!

Kaum Yahudi selalu berusaha mengadu-domba ummat Islam sejak zaman Nabi. Dulu mereka nyaris berhasil mengadu-domba Suku ‘Auz dan Bani Khazraj hingga masing-masing suku sudah berteriak2 marah dan mengambil senjatanya. Alhamdulillah di zaman itu masih ada Nabi yang memarahi mereka dan mencegah mereka.

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)

Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)

Sekarang dari tahun 1980 (kita batasi saat kita sudah hidup saja) hingga sekarang kaum Yahudi juga berusaha mengadu-domba ummat Islam:

1980-1988: Iraq dengan dibantu negara2 Arab dan AS menyerang Iran yang saat itu masih lemah akibat Revolusi Islam Iran yang dijalankan oleh Imam Khomeini. 1 Juta orang tewas. Bukan cuma Syi’ah yang tewas, tapi juga Sunni. Tidak ada yang menang.

2003-Sekarang: Setelah Iraq diserbu AS dan dipasang pemerintah boneka AS, kaum Sunni dan Syi’ah diadu-domba. Paling tidak ada lebih dari 100 pembom bunuh diri di mana 53 orang di antaranya dari Arab Saudi yang membom peziarah Syi’ah dan masjid Syi’ah. Ini dibalas kaum Syi’ah sehingga 1,35 juta Muslim baik Sunni dan Syi’ah tewas karenanya.

2012: Ummat Islam di Libya sesama Sunni saling bunuh lewat perang Saudara. Khaddafi yang anti AS digulingkan pemberontak dukungan AS. 50 ribu Muslim tewas. Meski Hizbut Tahrir menyatakan akan muncul Khilafah usai Khaddafi jatuh, ternyata yang muncul adalah pemerintah Boneka AS lengkap dengan Kedubes AS di dalamnya.

2012: Suriah juga dilanda pemberontakan dukungan AS yang sekarang dikaitkan dengan isyu Sunni vs Syi’ah. Padahal sebelumnya rezem Assad mendukung penuh perjuangan Hamas yang sunni sehingga menyediakan kantor Hamas Pusat di Suriah saat negara2 Arab justru menolaknya. Baru November 2012 Assad mengusir Hamas karena mendukung pemberontak Suriah. 60 ribu Muslim tewas karenanya.

Dari tahun 1980 saja sudah 2,4 juta Muslim (Sunni dan Syi’ah) tewas karena adu-domba. Harusnya kita cerdas dan tidak mau diadu-domba. Ini belum 100% Sunni dan Syi’ah yang teradu-domba. Masih banyak yang hidup damai seperti di Indonesia. Tapi kalau semua sudah terhasud, bisa jadi 200 juta Muslim lebih yang tewas sebagaimana di Eropa dulu waktu terjadi perang antara kelompok Katolik dan Protestan.

Bayangkan jika Indonesia terjadi perang dan saudara2 anda terbunuh karenanya. Bahkan jika di Indonesia cuma ada 1 juta orang Syi’ah yang ditindas pun jika 10 ribu orang dari mereka jadi teroris yang balas dendam dan membomi masjid-masjid Sunni, kita tidak bisa lagi beribadah dengan aman. Nabi tidak pernah semena-mena membunuh orang2 kafir kecuali mereka yang menyerang di Medan Perang. Itu pun jika mundur, Nabi membiarkan mereka mundur dan menawan orang2 yang tertinggal. Tidak membunuhnya. Itu terhadap orang2 Kafir yang Musyrik! Apalagi terhadap sesama Muslim yang masih menyembah Allah, masih bersyahadah, dan masih sholat.

Islam itu seakar dengan kata Salam yang berarti DAMAI. Sebarkan SALAM. Sebarkan DAMAI! Islam adalah Rahmat bagi semesta alam. Bukan teror/perang bagi alam.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).