politik

Penasaran Berapa Penghasilan Pembuat Berita Hoax ?

Posted on

Penasaran dan pengen tau berapa gaji penulis berita bohong di internet ?

Penyebaran berita palsu alias hoax di internet semakin melonjak ketika mendekati event event pesar seperti pemilihan kepala daerah. Baru baru ini para sosmeters ramai dengan berita palsu Ahok pesta miras. nih fotonya

picture1   Untuk orang sumbu pendek pasti langsung percaya namun bagi yang gak gampang ditipu pasti ketawa. yang disangkakan minuman keras itu ternyata merupakan Equil, air mineral asli indonesia yang sengaja dibuat begitu bentuknya.

equil_mineralwater

  Konon katanya berita palsu semacam ini adalah cara ampuh untuk mengalahkan lawan politik di pilkada, ya walaupun calon pemimpin tersebut tidak punya niat demikian tapi kadang pendukungnya lah yang melakukan hal semacam ini. Anehnya tidak hanya satu dua yang ketipu berita bohong tapi ratusan bahkan mungkin ribuan, kok bisa ya ? padahal jika mereka mau sedikit cari cari info yang bener berita berita bohong itu bisa diketahui dengan mudah.

Siapa sih sebenarnya yang menjadi tukang pembuat berita bohong ini ?
Sebenarnya belum ada penemuan secara jelas di Indonesia tentang penulis berita hoax, semua simpang siur. Tapi untuk di Amerika sendiri hal ini sudah terbukti. Menurut Washington Post, saat pilpres kemaren memang ada orang yang dibayar untuk menulis berita bohong dan nyebarin hoax tentang calon presiden Amerika tentunya. Salah satu yang populer adalah Paul Horner. Pria berusia 38 tahun ini nggak cuma sekali dua kali nulis berita bohong, dia udah bertahun-tahun ngelakuin pekerjaan ini. Salah satu beritanya yang paling terkenal berjudul “The Amish Vote for Donald Trump” . Paul sendiri nggak nyangka artikel hoax-nya ini berpengaruh besar terhadap hasil pemilihan presiden Amerika Serikat yang akhirnya dimenangkan oleh Donald Trump.

 Paul Horner mengaku kalau kemenangan Trump ini adalah karena tulisan-tulisannya. Para pendukung Trump memilih artikel yang dia tulis sebagai rujukan, kemudian merekashare di medsos sebanyak-banyaknya dan berhasil menghimpun banyak suara. Lebih parah lagi, hal ini dilakuin tanpa cek dan ricek sumber berita terlebih dahulu. Paul pernah menulis sebuah berita yang berisi tentang ” para pendemo yang menolak Trump dibayar 3500dolar untuk mengikuti aksi protes “. Berita inipun lagi lagi langsung ditelan oleh banyak orang tanpa mencari kebenarannya. Wajar saja dari “pekerjaannya” ini Paul sanggup meraup keuntungan 10 ribu dolar atau senilai 135 juta rupiah setiap bulannya. WOW

  Situs Buzzfeed News pernahmelakukan investigasi dan menemukan basis penyebaran berita palsu yang nggak diduga-duga berada di Makedonia. Lebih mengejutkan lagi, penulisnya rata-rata masih berusia belasan tahun! Sebanyak 100 website yang diduga pro-Trump ternyata dijalankan dari negara di Eropa bagian tenggara ini, tepatnya di kota Veles.
Penghasilan yang fantastis

dollar_22   Salah seorang yang aktif menulis di website politik dari Makedonia bernama Victor yang berhasil diwawancarai oleh Channel 4 (dilansir oleh Daily Mail). Pemuda yang masih berusia 16 tahun ini merupakan editor di sebuah situs bernama Total News. Victor memaparkan bahwa situs berita palsu udah jadi industri yang besar di Makedonia dan saat ini sudahudah ada lebih dari 200 situs. Rata-rata dari mereka bikin situs ini hanya untuk uang dan hiburan. Warga Veles mengatakan  bahwa pendapatan pembuat berita bohong di kota ini bisa mencapai 200 ribu dolar atau 2,7 milyar rupiah !
Bagaimana dengan Indonesia ?

  Untuk Indonesia sendiri mungkin pendapatannya gak sampai milyaran rupiah per bulan tapi gaji pembuat berita bohong di indonesia menurut kabar bisa lebih besar dari gaji PNS awal selama setahun ! Nah mereka bisa mendapatkan pendapatan sebesar ini dikarenakan mereka menyebarkannya lewat sosial media. Untuk berita bohong dengan pendapatan paling besar di indonesia biasanya berita yang berhubungan dengan politik maupun agama.
Belum dapat saya simpulkan apakah berita hoax di Indonesia ini dibuat atas dasar kepentingan bisnis semata atau ada kepentingan lain yang “memboncengi”. Tapi menurut pengamatan saya pembuat berita hoax di Indonesia didominasi oleh Pasukan nasi bungkus dan pasukan nasi kotak yang ingin menjatuhkan lawannya.

yang jelas pelaku penyebar informasi hoax bisa terancam pasal 28 ayat 1 dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Di dalam pasal ini disebutkan, ‘Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.’

Kemajuan teknologi Iran

Posted on

Iran, negara Persia ini tentu merupakan negara yang sangat disegani. Banyak tokoh Indonesia yang mengakui kehebatan Iran, salah satunya adalah Dahlan Iskan. Berikut adalah artikel pujian dari Dahlan Iskan ke Iran yang saya ambil dari website PLN.  Artikel ini berjudul ” Ke Iran Setelah 20 Tahun Diembrgo “. Ini dia artikelnya :

jarak iran dengan israel  Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.

Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, belakangan redup kembali.

Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.

Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama ini.

Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?

Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.

Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.

Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.

Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin  ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke 80.000 buah!

Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari Siemen.

Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.

Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.

Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.

Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.

Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.

Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.

“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.

“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.

Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.

Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.

Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.

Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.

Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.

Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.

Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.

Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.

Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.

Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.

Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.

Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada  keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.

Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.

Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.

Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!

Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?

Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.

Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.

Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.

Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan teknologi  drilling dan pengolahan.

Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran.  Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.

Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,” tambahnya.

Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.

Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.

Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian  memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam lima tahun ke depan.

Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.

Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.

Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.

Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.

Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia.

Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.

AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.

Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.

Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.

Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri”.

Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran diisolasi?

 

Dahlan Iskan

CEO PLN

Sekian artikel yang saya ambil dari web PLN.

Iran atau Arab Saudi yang membantu Amerika dan Israel ?

Posted on

COBRA BMT-2 APC

Saat Revolusi Iran tahun 1979, AS dan Arab Saudi serta negara2 Arab lainnya mendukung Iraq (Saddam Hussein) menyerang Iran. Terjadi perang selama 8 tahun (1980 1988) yg menewaskan 1 juta orang (500 ribu Iran dan 500 ribu Iraq) dan biaya perang Rp 10 ribu trilyun.

Sebelumnya, Iran sebagaimana Arab Saudi merupakan sekutu erat AS di zaman Syah Iran, Reza Pahlevi. Namun sejak Reza terguling, Kedubes AS diserbu dan disandera mahasiswa Iran selama 444 hari untuk kemudian ditutup hingga saat ini.

Sayang negara2 Arab justru menagih hutang kepada Irak atas bantuan menyerang Iran tsb, sehingga Saddam menyerang Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Saddam itu Sunni dan didukung pemerintahan yg Sunni meski 60% warga Iraq itu Syi’ah.

Negara2 Arab tak mampu melawan Iraq. Mereka meminta AS dan menyediakan pangkalan militer bagi AS guna menyerang Iraq dan membunuh Saddam. Akibatnya Saddam dan Pemerintah Sunninya jatuh. DENGAN DUKUNGAN AS Yang naik, justru pemerintah dari kalangan Syi’ah.

Jadi salah jika ada yang mengatakan Iran yg membantu AS menyerang Iraq.

Justru Arab Saudi dan negara2 Arablah yg menyediakan pangkalan militer bagi AS guna menyerang Iraq.

Selain menyediakan Pangkalan Militer bagi AS, ternyata Arab Saudi juga menyumbang teroris ke Iraq. 53 Pembom Bunuh diri yang menargetkan peziarah Syi’ah ternyata berasal dari Arab Saudi. Apalagi ternyata banyak lembaga-lembaga dan Media Massa “Islam” yang didanai dengan Petro Dollar Arab Saudi bukan sekedar mengulas perbedaan Sunni-Syi’ah, tapi juga mengobarkan kebencian sehingga mengadu-domba Sunni dengan Syi’ah.

Rezim Arab Saudi dikenal luas dengan reputasinya sebagai sekutu utama Amerika dan Barat di kawasan Jazirah Arab. Arab Saudi bersama Amerika memerangi mujahidin Anshar Syariah di Yaman Selatan. Agresi militer AS dan NATO ke Irak pada Perang Teluk 1990 dan perang 2003 berangkat dari pangkalan-pangkalan militer AS dan Inggris di Arab Saudi dan Kuwait.

IRAQ SELANJUTNYA Dengan naiknya PM Nuri Al Maliki dari Syi’ah dan sebetulnya Presiden Iraq itu dari Wahabi, mungkin benar kalau Iran/Syi’ah kemudian diuntungkan. Tapi aneh jika Media Massa Islam yang didanai Petro Dollar Arab Saudi sama sekali tidak menyinggung dosa Arab  yang menyediakan pangkalan militer AS untuk menyerang  Iraq hingga sekarang. Adilkah itu? Jujurkah itu?

Munculnya Syi’ah jadi PM Iraq belum tentu dia taat pada Imam Syi’ah atau sejalan dgn Pemerintah Iran. Buktinya mantan Syah Iran Reza Pahlevi, puteranya, dan para Pendukung Syah Iran membangkang thd Imam Syi’ah dan Iran serta bersehabat dgn AS. Ini sama halnya dgn Saddam Hussein yang Sunni, tapi kemudian justru menentang Arab Saudi dan AS. Kalau di Indonesia, ada Islam KTP yang justru menentang Islam. Jadi tak bisa disebut naiknya seorang Syi’ah jadi PM seperti Nuri sebagai selingkuh antara AS dgn Iran. Apalagi sebenarnya yang jadi Presiden adalah seorang Wahabi meski kemudian tersingkir karena melakukan pemboman thd kaum Syi’ah yang sebetulnya mayoritas di Iraq.

Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Meski Saddam Hussein adalah Sunni, namun 60% penduduk Iraq adalah Syi’ah. Ini berlawanan dgn Suriah di mana Syi’ah cuma 15% dan Sunni 85%, tapi yang jadi presiden adalah orang Syi’ah. Cuma aneh juga kalau ada Media Wahabi seperti Arrahmah.com dgn data tidak jelas menyebut Sunni mayoritas di Iraq dgn jumlah 60% padahal berbagai fakta di media massa termasuk Sensus di zaman Saddam menyebut Syi’ah 60% di sana. Apalagi Iraq itu kan memang pusatnya Syi’ah meski sekarang bergeser ke Iran. Lihat:

Britannica: Syi’ah 60%, Sunni 40% Sumber: CIA World Fact Book: Syi’ah 60%-65%, Sunni 32%-37% dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Iraq

Kalau digoogle lebih banyak lagi, maka kita akan tahu kalau Syi’ah memang mayoritas di Iraq. Beritanya dari sumber yg kredibel itu amat Mutawatir. Jadi aneh kalau ada Media Wahabi macam Arrahmah.com bilang Sunni adalah mayoritas di Iraq. Itu bohong besar. Kalau Suriah, itu benar. Jika hal seperti statistik yang pasti dan jelas saja sudah bohong, bagaimana dengan berita2 lainnya?

Kalau ada 2 pihak yang berperang, sebaiknya didamaikan. Bukan malah dikompori.

Agama Islam tidak pernah mengajarkan ummatnya jadi Sektarian/Ashobiyyah. Islam itu adalah Rahmatan lil ‘Alamiin.

Apalagi sampai membunuh orang yang masih bersyahadah tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah serta masih sholat.

Ummat Islam itu berjihad/berperang demi ISLAM! Bukan demi Sunni atau pun demi Syi’ah:

Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.”

(HR. Ahmad)

Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah

(HR Abu Dawud).

Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.

INI ADALAH DAFTAR PANGKALAN UDARA AMERIKA SERIKAT di negara-negara Islam. Dari situ kita tahu ternyata Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Turki menyediakan Pangkalan Militer bagi AS. Ada pun Afghanistan dan Iraq baru “memberi” pangkalan militer setelah diserang dan dikuasai AS. Ada 5 Pangkalan Udara Amerika Serikat di Arab Saudi seperti:

Eskan Village Air Base, Saudi Arabia

King Abdul Aziz Air Base, Dhahran, Saudi Arabia

King Fahd Air Base, Taif, Saudi Arabia

King Khalid Air Base, Khamis Mushayt, Saudi Arabia

Riyadh Air Base, Riyadh, Saudi Arabia

Sebelumya Media Massa Wahabi yang didanai Petro Dollar Arab Saudi (Sekutu AS dan Israel) juga memberitakan bahwa roket Hamas bukan bantuan dari Iran. Padahal roket Fajr 5 yang ditembakkan Hamas adalah buatan Iran. Iran juga memberi pembuat rudal ke Hamas sehingga Hamas dapat membuatnya sendiri. Itulah sebabnya Hamas selain berterimakasih kepada Iran. tanyakan pada pimpinan tertinggi Hamas tentang ini

Ada lagi yang mempertanyakan “Adakah 1 Peluru Iran yang jatuh ke Israel?” Secara langsung mungkin tidak ada karena jarak Israel-Iran yang cukup jauh (1500 km). Lihat peta:

jarak iran dengan israel

di peta terlihat jarak iran dengan israel adalah 1000 km lebih dan mengapa Arab dan Mesir tidak menyerang israel padahal mereka memiliki perbatasan langsung dengan Israel.

Tapi dengan perang Gaza selama 8 hari kemarin kita tahu roket Fajr 5 Iran mendarat di Israel. Sebelumnya juga roket-roket Iran dan senjata lain dipakai oleh pejuang Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Tak heran jika pimpinan Hamas seperti Khaled Meshaal dan Ismail Haniyeh sering pergi ke Teheran untuk mendapat dukungan dana dan senjata dari Iran.

Saat pemimpin Iran mengecam AS dan Israel dengan pedas, banyak yang menganggapnya cuma pura-pura. Sekarang kita tanya, “Beranikah Raja Arab Saudi mengecam AS dan Israel?” SBY saja tidak berani. Jadi dengan mengecam pun butuh keberanian yang tinggi.

Kaum Wahabi sering menganggap Iran cuma pura-pura melawan AS. Tidak akan terjadi perang. Padahal jika kita lihat, sudah banyak konflik yang terjadi:

  1. Penyerbuan Kedubes AS dan penyanderaan staf Kedubes AS selama 444 hari pasca Revolusi Iran yang menggulingkan sekutu AS, Syah Iran Reza Pahlevi. Mana ada negara di dunia ini yang berani menyerang Kedubes AS? Di Indonesia, demo di depan Kedubes AS saja bisa ditembak mati oleh Polisi.

AS pernah mencoba membebaskan sandera tsb dalam Operasi Eagle Claw. Namun gagal karena badai gurun. Pesawat dan Helikopter militer AS saling bertabrakan dan menewaskan sebagian pilot dan penumpangnya. Sisanya ditahan Iran.

Hingga saat ini, tidak ada Kedubes AS di Iran. Bandingkan dengan Kedubes2 AS yang hadir di Arab Saudi, Mesir, dan Turki. Iran jelas lebih berani dalam menghadapi kafir harbi AS yang membunuh ummat Islam di Iraq, Afghanistan, dan menghalangi berdirinya syariat Islam di seluruh dunia

  1. U.S.S Vincennes menembak jatuh pesawat Airbus A300 Iran itu segera setelah lepas landas dari kota Bandar Abbas, Iran, tanggal 3 Juli tahun 1988. 290 orang Iran tewas! Washington mengatakan Vincennes keliru mengira pesawat penumpang itu sebuah pesawat tempur jet Iran yang bermusuhan.
  2. AS dan Israel pada tahun 2010 dan 2011 membunuh ahli nuklir Iran untuk menghambat program nuklir Iran. AS dan Israel menurut media massa Barat sendiri melakukan sabotase yang mengakibatkan ledakan hebat di markas Garda Revolusi Iran pada 12 November lalu yang meratakan sebagian besar bangunannya dan menewaskan 17 orang, termasuk pendiri program misil balistik Iran, Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam.
  3. Terakhir Iran membajak pesawat mata-mata AS RQ-170 Sentinel yang menyusup sejauh 250 km ke Iran dari Afghanistan. Presiden AS, Barack Obama, jadi bahan tertawaan publik saat meminta Iran untuk mengembalikan pesawat mata-matanya. Ini ibarat maling yang membawa tangga, ketika tangganya ketinggalan, dia meminta tangganya dikembalikan oleh orang yang dia curi.
  4. Saat Perang Iran-Iraq (1980-1988) sebetulnya AS juga membantu Iraq dengan mengirim kapal2 induk dan kapal perangnya ke Teluk Persia. Namun Iran menggelontorkan ranjau-ranjau laut sehingga beberapa kapal perang AS USS Samuel B. Roberts (FFG-58) bolong terkena ranjau Iran. Silahkan baca:

USS Samuel B. Roberts (FFG-58) is one of the final ships in the United States Navy‘s Oliver Hazard Perry class of guided missile frigates (FFG). The ship was severely damaged by an Iranian mine in 1988, leading U.S. forces to respond with Operation Praying Mantis.

http://en.wikipedia.org/wiki/USS_Samuel_B._Roberts_(FFG-58)

AS membalasnya dengan Operasi Praying Mantice yang menghancurkan 5 kapal perang dan speed boat Iran serta instalasi minyak Iran. Perang Laut yang dilakukan AS terhadap Iran adalah Perang Laut yang terbesar setelah Perang Dunia 2:

Operation Praying Mantis was an attack on April 18, 1988, by U.S. naval forces within Iranian territorial waters in retaliation for the Iranianmining of the Persian Gulf during the Iran–Iraq war and the subsequent damage to an American warship.

This battle was the largest of the five major U.S. surface engagements since the Second World War

http://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Praying_Mantis

Saat kapal2 perangnya banyak karam ditembak AS, Iran segera menggunakan speed boat2 kecil yang cepat sehingga cukup merepotkan AS. Jadi keliru jika menganggap tak pernah ada konflik antara AS dan Iran.

Kalau pun AS tidak menyerang Iran secara besar-besaran, ini karena Iran dengan penduduk 80 juta jiwa dan mampu membuat senjata sendiri (pesawat tempur pun bisa) jauh lebih kuat daripada Iraq yang penduduknya cuma 25 juta jiwa. Imam Syi’ah Ali Khamenei yang ada di Iran pun diperkirakan bisa membangkitkan 160 juta kaum Syi’ah di Timur Tengah guna melawan AS.

Oleh sebab itulah dengan menggunakan Arab Saudi dan Wahabi sebagai sekutunya, AS mencoba mengadu-domba Sunni dengan Syi’ah sehingga saling bunuh dan lemah.

Syi’ah memang beda dengan Sunni. Namun hendaknya perbedaan/penyimpangan itu disikapi dengan dakwah yang maw-izhonul hasanah dan bil hikmah. Dengan baik dan bijak. Bukan dengan mengobarkan kebencian sehingga jadi saling bunuh. Jika itu terjadi, kaum Yahudi dan Nasrani yang dimurkai Allah dan sesat justru akan tertawa terbahak-bahak.

Nabi tidak main bunuh terhadap orang-orang kafir yang menolak dakwahnya. Contohnya saat penduduk Thaif menolak dakwah Nabi bahkan melempar beliau dengan batu, saat Malaikat menawarkan bantuan untuk menghancurkan penduduk Thaif, Nabi menolak. Siapa tahu nanti keturunan mereka masuk Islam. Begitu kata Nabi.

Jadi tindakan Arab Saudi dan Wahabi yang mengadu- domba dan mengirim ratusan pembom bunuh diri guna membunuh peziarah Syi’ah dan masjid2 Syi’ah di Iraq berlawanan dengan Islam. Itu memancing tindakan balas dendam dari kaum Syi’ah. Itu adalah tindakan adu-domba yang mengakibatkan Sunni dan Syi’ah jadi saling bunuh.

Di Libya sesama Sunni, 50 ribu Muslim tewas saling bunuh dalam perang Saudara. Hizbut Tahrir yakin betul bahwa Khilafah akan berdiri usai Khaddafi jatuh. Ternyata “Khilafah”nya cuma boneka AS saja… Di Iraq hampir 1,5 juta Muslim (Sunni dan Syi’ah) tewas karena saling bunuh. Di Suriah 60 ribu Muslim (Sunni dan Syi’ah) juga tewas. Sementara tentara AS dan Israel yang menyerang dan membantai ummat Islam di Palestina, Iraq, dan Afghanistan justru aman. Apa itu tidak ironis? Apakah mereka tidak berpikir akan hal ini?

Membunuh sesama Muslim dan membiarkan orang-orang kafir bukanlah ciri orang yang beriman:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

\Wahabi menuduh Iran cuma taqiyyah atau pura2 perang melawan AS dan Israel. Padahal sebetulnya Iran berteman dengan AS dan Israel. Begitu kata Wahabi. Betulkah itu?

Allah melarang kita untuk melakukan buruk sangka/su’u zhon karena sebagian zhon itu dosa (Al Hujuraat ayat 12). Nabi juga melarang kita “Membaca Hati” manusia karena kita tidak mampu. Kita hanya bisa menilai yang zahir. Yaitu lisan/ucapan dan perbuatan. Perhatikan baik-baik hadits dibawah:

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a.: Rasulullah SAW. pernah mengirimkan kami dalam suatu pasukan (sariyyah); lalu pada pagi hari kami sampai ke Huruqat di suku Juhainah, di sana saya menjumpai seorang laki-laki, dia berkata, “La ilaha illallah – tiada tuhan selain Allah,” tetapi saya tetap menikamnya (dengan tombak), lalu saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Setelah sampai di Madinah, saya memberitahukan hal tersebut kepada Nabi SAW., lalu beliau bersabda, “Dia mengatakan, ‘La ilaha illallah’, kemudian kamu membunuhnya?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh dia mengatakannya hanya kerana takut pada senjata.” Beliau bersabda, “Tidakkah kamu belah dadanya, lalu kamu keluarkan hatinya supaya kamu mengetahui, apakah hatinya itu mengucapkan kalimat itu atau tidak?” Demikianlah, beliau berulang-ulang mengucapkan hal itu kepada saya sehingga saya menginginkan seandainya saya masuk Islam pada hari itu saja. Sa’ad berkata, “Demi Allah, saya tidak membunuh seorang Muslim sehingga dibunuhnya oleh Dzul Buthain, maksudnya Usamah.” Lalu ada orang laki-laki berkata, “Bukankah Allah SWT. telah berfirman, Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS Al-Anfal (8): 39).” Lalu Sa’ad menjawabnya, “Kami sudah memerangi mereka supaya jangan ada fitnah, sedangkan kamu bersama kawan-kawanmu menginginkan berperang supaya ada fitnah.” (1: 67 – 68 – Sahih Muslim)

Pemimpin Iran secara lisan mengecam AS dan Israel. Sementara raja Arab Saudi tidak berani melakukan itu. Tidak ada Kedubes AS di Iran. Sementara di Arab Saudi selain ada Kedubes AS, ada juga 5 Pangkalan Udara Militer AS guna menyerbu negara-negara Islam di sekitar situ seperti Iraq dan Afghanistan. Iran membantu Hizbullah dan Hamas dengan dana dan senjata padahal AS mencap kedua organisasi tsb sebegai teroris. Sementara Arab Saudi sama sekali tidak membantu. Yang dibantu cuma Fatah yang sekuler dan agak bersahabat dengan Israel. Saat perang Iran-Iraq dan Operasi Praying Mantis, Iran benar-benar berperang melawan AS. Nah sejak tahun 1980 hingga sekarang, adakah Arab Saudi berperang melawan AS? Ada tidak?

Iran secara zahir dengan lisan dan perbuatan sudah membuktikan bahwa mereka menentang AS dan Israel.

Sementara Arab Saudi dan Wahabi yang mengaku sebagai Penegak Tauhid, Pembela Sunnah justru secara perbuatan bersahabat dengan AS dan Israel. Itulah yang namanya taqiyyah. Ucapan beda dengan Perbuatan:

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani)…” [Al Maa-idah 52]

Kita baca lagi ayat lainnya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau kita kritis dan berpikir, niscaya kita tahu justru Arab Saudi dan Wahabi itu perbuatannya menyimpang dari Al Qur’an dan Hadits: Bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani (AS DAN ISRAEL)!

Kaum Yahudi selalu berusaha mengadu-domba ummat Islam sejak zaman Nabi. Dulu mereka nyaris berhasil mengadu-domba Suku ‘Auz dan Bani Khazraj hingga masing-masing suku sudah berteriak2 marah dan mengambil senjatanya. Alhamdulillah di zaman itu masih ada Nabi yang memarahi mereka dan mencegah mereka.

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)

Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)

Sekarang dari tahun 1980 (kita batasi saat kita sudah hidup saja) hingga sekarang kaum Yahudi juga berusaha mengadu-domba ummat Islam:

1980-1988: Iraq dengan dibantu negara2 Arab dan AS menyerang Iran yang saat itu masih lemah akibat Revolusi Islam Iran yang dijalankan oleh Imam Khomeini. 1 Juta orang tewas. Bukan cuma Syi’ah yang tewas, tapi juga Sunni. Tidak ada yang menang.

2003-Sekarang: Setelah Iraq diserbu AS dan dipasang pemerintah boneka AS, kaum Sunni dan Syi’ah diadu-domba. Paling tidak ada lebih dari 100 pembom bunuh diri di mana 53 orang di antaranya dari Arab Saudi yang membom peziarah Syi’ah dan masjid Syi’ah. Ini dibalas kaum Syi’ah sehingga 1,35 juta Muslim baik Sunni dan Syi’ah tewas karenanya.

2012: Ummat Islam di Libya sesama Sunni saling bunuh lewat perang Saudara. Khaddafi yang anti AS digulingkan pemberontak dukungan AS. 50 ribu Muslim tewas. Meski Hizbut Tahrir menyatakan akan muncul Khilafah usai Khaddafi jatuh, ternyata yang muncul adalah pemerintah Boneka AS lengkap dengan Kedubes AS di dalamnya.

2012: Suriah juga dilanda pemberontakan dukungan AS yang sekarang dikaitkan dengan isyu Sunni vs Syi’ah. Padahal sebelumnya rezem Assad mendukung penuh perjuangan Hamas yang sunni sehingga menyediakan kantor Hamas Pusat di Suriah saat negara2 Arab justru menolaknya. Baru November 2012 Assad mengusir Hamas karena mendukung pemberontak Suriah. 60 ribu Muslim tewas karenanya.

Dari tahun 1980 saja sudah 2,4 juta Muslim (Sunni dan Syi’ah) tewas karena adu-domba. Harusnya kita cerdas dan tidak mau diadu-domba. Ini belum 100% Sunni dan Syi’ah yang teradu-domba. Masih banyak yang hidup damai seperti di Indonesia. Tapi kalau semua sudah terhasud, bisa jadi 200 juta Muslim lebih yang tewas sebagaimana di Eropa dulu waktu terjadi perang antara kelompok Katolik dan Protestan.

Bayangkan jika Indonesia terjadi perang dan saudara2 anda terbunuh karenanya. Bahkan jika di Indonesia cuma ada 1 juta orang Syi’ah yang ditindas pun jika 10 ribu orang dari mereka jadi teroris yang balas dendam dan membomi masjid-masjid Sunni, kita tidak bisa lagi beribadah dengan aman. Nabi tidak pernah semena-mena membunuh orang2 kafir kecuali mereka yang menyerang di Medan Perang. Itu pun jika mundur, Nabi membiarkan mereka mundur dan menawan orang2 yang tertinggal. Tidak membunuhnya. Itu terhadap orang2 Kafir yang Musyrik! Apalagi terhadap sesama Muslim yang masih menyembah Allah, masih bersyahadah, dan masih sholat.

Islam itu seakar dengan kata Salam yang berarti DAMAI. Sebarkan SALAM. Sebarkan DAMAI! Islam adalah Rahmat bagi semesta alam. Bukan teror/perang bagi alam.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).